Sabtu, 08 Juni 2013

HAMBA HAMBA ALLAH YANG MAHA PENYAYANG



Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih), alangkah indah hidup mereka, alangkah lembut hati mereka, akhlak mulia adalah perhiasan mereka; senantiasa mengambil pelajaran dari segala kejadian, dari semua ciptaan; jika memandang langit, mereka berkata,
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang
Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bersinar  terang.
Malam dan siang adalah ayat Allah yang selalu mengingatakan mereka untuk selalu bersyukur dan mengambil pelajaran,
“Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sifat sombong, bangga diri, atau merasa lebih baik, mereka adalah orang yang rendah hati.
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang,
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.
Keburukan mereka balas dengan kebaikan, kejahilan mereka hadapi dengan hikmah, bagi mereka cacian orang-orang bodoh adalah angin lalu.
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
Ketika hari telah berselimut gelap, ketika manusia tengah larut dalam buaian mimpi-mimpi, mereka bangkit dan berdiri, menyucikan hati, mendekat diri kepada Ar-Rahman. 
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”
Namun demikian mereka tetap saja merasa khawatir jika amal mereka belum diterima, belum sempurna, belum cukup untuk mendapat ridhanya hingga mereka berkata,
"Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang abadi.”
Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kembali.
Mereka adalah orang-orang yang hidupnya bersahaja, sederhana saja; tidak pelit membelanjakan hartanya, juga tidak boros membelanjakannya untuk hal yang tidak berguna, atau melebihi batas kebutuhannya.
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Mereka hanya mengabdi kepada Allah, tiada kebaikana apapun bentuknya, melainkan ia niatkan hanya karena dan untuk mencari ridhaNya.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah.”
Mereka hamba-hamba yang penyang dan lembut hatinya, tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk mebunuh, meskipun hanya seekor serangga.
dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar.
Mereka adalah orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya, patang baginya mengotorinya dengan yang keji, zina adalah salah satunya;
dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
mereka adalah orang banyak bertaubat.
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya,
Mereka kekal di dalamnya. syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.


Selasa, 05 Maret 2013

MENEMUKAN CINTA

Seorang lelaki mendatangi konsultan keluarga. Ia hendak berkonsultasi mengenai kondisi rumah tangganya yang sudah hampir karam. Setelah bertemu sang konsultan ia mencurahkan semua masalah dan keluh kesahnya. Tentang cinta yang sudah hampir punah antara dirinya dan istrinya. Tentang komunikasi yang soalah kering kerontang. tak ada lagi rindu dan cinta...Setelah ia selesai berbicara sang konsultan tersenyum sambil berkata,
"Sobat, cintailah istrimu."
"Justru itu pak, seperti yang saya ceritakan tadi, sudah tidak ada cinta di antara kami."
Sambil tersenyum sang konsultan mengatakan saran yang sama, "Cintailah istrimu."
Lelaki itu nampak jengkel dengan nada gusar ia mengatakan, "Saya sudah katakan kepada Anda bahwa sudah tidak ada cinta di antara kami. Dan saya datang untuk mencari solusi terbaik dari Anda."
"Ya, cintailah istrimu."
"Huff...tolong jelaskan maksud Anda pak. Saya tidak mengerti."
"Apakah sebelum ini kamu mencintai istrimu?"
"Ya, tentu, bahkan saya selalu merindukannya."
"Lalu apa yang Anda lakukan untuk merawat cintamu?"
"Saya bawakan dia hadiah, saya sempatkan untuk makan bersama. Kadang-kadang saya ajak dia bersantai ke tepi pantai."
"Sekarang perlakukan istrimu seperti dulu kamu memperlakukannya. Kau akan mendapatkan cintamu kembali."

Si Lelaki pulang dengan wajah riang. Sebulan kemudian, ia kembali untuk mengucapkan terima kasih kepada sang konsultan.

*dari buku==> Untukmu Sepasang Kekasih, hal. 20.

Minggu, 03 Maret 2013

MARI BER-ISTIGHFAR...

“Tak ada gading yang tak retak” demikian kata pepatah. Tak ada manusia sempurna, jadi kekurangan sudah pasti ada pada setiap manusia. 
Semua yang masih menyadari kemanusiaannya pasti mengakaui hal ini. Namun, sedikit orang yang kemudian mau dengan rendah hati mengakui kesalahan dan kekurangnnya, tidak saja kepada sesama manusia, tapi lebih dari itu mengkaui kekurangan di hadapan Dzat yang Maha Sempurna, Allah Azza wa Jalla. Kita mengerti jika  kita telah berbuat dosa, tapi lisan ini tak juga tergerak untuk mengucap taubat kepadaNya. Karena kesalahan adalah bentuk kekurangan kita sebagai manusia, maka Rasulullah n menasihatkan agar kita menutupi kekurangan itu dengan banyak-banyak beristighfar kepada Allah, bartaubat atas segala kesalahan baik yang kita sengaja mauon tidak, baik yang berkaitan dengan hak Allah yang Maha Sempurna ataupun hak sesama manusia.
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak adam pasti penah berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Anas Al-Hakim mengatakan hadits ini isnadnya shahih) 
Berangkat dari kesadaran ini, adalah sangat mungkin kegagalan kita dalam sebuah usaha hari ini adalah akbibat dari kesalahan kita beberapa waktu lalu, kesalahan yang mungkin kita sendiri sudah melupakannya. Lalu Allah hendak mengingatkan kita dengan menggagalkan usaha kita. Bisa jadi kesalahan itu memang tidak berkait langsung dengan musibah yang kita alami. Akan tetapi demikianlah sunnah yang Allah berlakukan kepada makhukNya.
Lain daripada itu bahwa taubat dan istigfar bisa menjadi sarana Allah membebaskan kita dari kesusahan, musibah diringankan, dada dilapangkan, keinginan dikabulkan, sebagaimana Allah mengisahkan tentang seruan Nabi Nuh kepada kaumnya agar bertaubat dan beristigfar kepada Allah, sehingga Allah menurunkan hujan dan memberikan mereka keturunan yang banyak.
“Maka Aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)Ya... Kembali kepada Allah, meminta taufik dan bimbinganNya adalah faktor terbesar yang akan melapangkan dada, membesarkan hati, dan menjaga stamina iman. Dengan demikian kita akan bisa melihat hikmah di balik musibah yang menimpa kita bahwa dengannya Allah hendak mengingatkan kita agar kita selalu bersandar kepadaNya, agar kita kembali, tunduk dan pasrah dan berdoa hanya kepadaNya. Agar kita merasakan ke-Mahabesaran Allah dan membersihkan jiwa kita dari kesombongan. Dan akhirnya Allah memebri jalan keluar dari setiap permasalahan.
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang memperbanyak istighfar,  maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan, diberi kelonggaran dari setiap kesempitan, dan akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

(HR. Abu Dawud no. 1297)
Dan untuk itu Allah memberi sarana yang sangat mudah. Ya, lisan adalah anggota badan yang paling mudah untuk digerakkan. Sehingga dengan idzin Allah tidak ada kesulitan untuk memperbanyak istighfar.

Penghulunya Istighfar
Syaddad bin Aus a meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Penghulunya istighfar adalah engkau membaca,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ
“Yaa Allah, engkau adalah Rabb-ku. Tidak ada Ilah yang benar selain Engkau dan aku adalah hambaMu. Aku berada di atas janjiMu dan …semampuku. Aku mengakui nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan aku juga megakui dosa-dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selainMu. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang aku perbuat.”
Barangsiapa yang membancanya di sore hari lalu ia meninggal dunia maka ia termasuk penghuni Janna dan barangsiapa membaca di pagi hari kemudian yang meninggal dunia maka ia termasuk penghuni Jannah.” (HR. Al-Bukhari no. 5831)

Selasa, 19 Februari 2013

WAKTU dan RAKAAT SHALAT DHUHA



WAKTU PELAKSANAAN SHALAT DHUHA

Sebagaimana namanya, Dhuha, maka Shalat Dhuha dikerjakan pada waktu dhuha. Lantas kapan waktu dhuha tersebut ada?

Dhuha adalah sebutan untuk waktu sejak setelah matahari terbit hingga menjelang zawal. Al-Imam Asy-Syaukani t menerangkan, “Ulama berbeda pendapat tentang waktu masuknya Shalat Dhuha; Al-Imam An-Nawawi t dalam kitab Ar-Raudhah meriwayatkan dari para pengikut mazhab Asy-Syafi’i bahwa waktu dhuha mulai masuk sejak terbitnya matahari. Akan tetapi disenangi mengakhirkan pelaksanaannya sampai matahari meninggi. Sebagian lagi berpendapat, waktu dhuha mulai masuk ketika matahari sudah meninggi, dan pendapat inilah yang ditetapkan oleh Ar-Rafi’i dan Ibnu Ar-Rif’ah.” (Nailul Authar: 2/329)

Dalam kitab Zadul Mustaqni’ disebutkan, “Waktu dhuha mulai dari berlalunya waktu larangan shalat sampai sesaat sebelum zawal.” Yakni dari naiknya matahari seukuran tombak sampai masuknya waktu larangan shalat ketika matahari tepat berada di tengah langit. Waktu shalat dhuha yang paling utama adalah apabila sinar matahari sudah terasa panas menyengat.” (Ar-Raudhul Murbi’: 1/176)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t menjelaskan bahwa ukuran satu tombak itu menurut penglihatan mata orang yang melihat dan ukurannya sekitar satu meter. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa waktu dhuha dimulai dari berakhirnya waktu larangan shalat di awal pagi sampai datangnya waktu larangan di tengah siang (tengah hari). Mengerjakannya di akhir waktu lebih utama karena adanya hadits Nabi n tentang Shalat Awwabin. (Asy-Syarhul Mumti’: 4/88)

Dari dua pendapat di atas bisa dikompromikan bahwa dari sisi penamaan (bahasa), waktu dhuha sudah masuk sejak terbit matahari hingga zawal. Namun dari sisi syariat, yakni ketika waktu dihubungkan dengan Syariat Shalat Dhuha, maka waktu dhuha mulai masuk sejak berlalunya waktu teralarang untuk shalat hingga sesaat menjelang zawal. Karena kedua waktu tersebut (ketika matahari terbit dan ketika matahari berada di atas kepala) adalah waktu terlarang untuk shalat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah n,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)

Sedangkan batas akhirnya dijelaskan oleh hadits Uqbah bin Amir beliau menceritakan,

“Tiga waktu dimana Rasulullah n melarang kami untuk shalat padanya dan melarang kami menguburkan orang yang meninggal di antara kami; yaitu ketika matahari terbit sampai agak meninggi, ketika matahari berada di tengah langit sampai ia condong (ke barat), dan ketika matahari menjelang tenggelam sampai tenggelam.” (HR. Muslim, no. 831)

Waktu yang Paling Utama

Waktu yang paling utama untuk mengerjakan Shalat Dhuha adalah ketika sudah masuk waktu siang. Sebagaimana hadits dari Zaid bin Arqam a bahwa beliau melihat orang-orang sedang shalat pada awal dhuha, maka beliau berkata, “Tidakkah orang-orang itu mengetahui bahwa shalat (dhuha) di selain waktu ini lebih utama. Rasulullah n bersabda,

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalatnya awwabin adalah tatkala anak unta merasakan kakinya kepanasan karena terbakar panasnya pasir.” (HR. Muslim no. 1743)

Dalam peristiwa Fathu Makkah, Ummu Hani mengabarkan,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَتَى بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَأُتِيَ بِثَوْبٍ فَسُتِرَ عَلَيْهِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ قَامَ، فَرَكَعَ ثَمَانِي رَكَعَاتٍ…

“Rasulullah n datang pada hari Fathu Mekkah setelah siang meninggi, lalu didatangkan kain untuk menutupi beliau yang hendak mandi. (Seselesainya dari mandi) beliau bangkit untuk mengerjakan shalat sebanyak delapan rakaat.” (HR. Muslim No. 1665)

Al-Imam An Nawawi t dan Imam Ash-Shan’ani menjelaskan bahwa, “Ar-Ramdha’ adalah hawa panas dari pasir atau tanah yang terbakar panas matahari. Dan hal itu terjadi ketika matahari sudah meninggi. Shalat awwabin adalah yang yang dikerjakan ketika kaki-kaki anak-anak unta merasa sangat kepanasan karena menapak/menginjak pasir yang sangat panas. Sedangkan awwab artinya orang yang taat. Ada pula yang mengatakan awwab artinya orang yang kembali dengan melakukan ketaatan. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat di waktu tersebut dan ia merupakan waktu yang paling utama untuk mengerjakan Shalat Dhuha, walaupun shalat Dhuha boleh dikerjakan dari mulai terbitnya matahari hingga menjelang zawal.” (Al-Minhaj: 6/272, Subulus Salam: 2/293)

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Jumlah minimal rakaat Shalat Dhuha adalah dua rakaat, sebagaimana hadits Abu Hurairah di depan. Bisa juga mengerjakan empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, atau duabelas rakaat, atau tanpa batasan, karena semuanya memiliki pijakan dari sunnah Rasulullah n. (Shalatul Mukmin: 1/449, Syarh Riyadhus Shalihin, Al-Utsaimin:

Dalil Shalat Dhuha empat rakaat hingga tanpa batasan  adalah hadits Aisyah s,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Dari Aisyah s beliau berkata, “Rasulullah n shalat Dhuha empat rakaat dan menambahnya sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Muslim)

Juga Abu Darda’ dan Abu Dzar h bahwa Rasulullah n bersabda,  “Allah l, berfirman,

ابْنَ آدَم، اِرْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، أَكْفِكَ آخِرَهُ

“Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) untuk-Ku empat rakaat pada awal siang niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siangmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 475, Ahmad, no. ) At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dishahihkan Al-Imam Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Sedangkan dalil bahwa Rasulullah n Shalat Dhuha delapan rakaat adalah hadits Ummu Hani. Ibnu Abi Laila mengatakan bahwa,

مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يُصَلِّى الضُّحَى غَيْرَ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ فَلَمْ أَرَ صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ.

“Tidak ada yang mengabarkan kepadaku bahwa Nabi n melakasanakan Shalat Dhuha selain Ummu Hani. Ia menceritakan bahwa Nabi masuk ke dalam rumahnya pada peristiwa Fathu Mekah, kemudian beliau mandi, kemudian lalu beliau shalat delapan rakaat. Saya tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan selain dari shalat yang delapan rakaat tersebut, namun Nabi n menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”  (HR. Al-Bukhari, no. 1176, Muslim, no. 336)

Imam Asy-Syaukani mengatakan, “Ada beberapa riwayat yang menyebutkan tentang jumlah rakaat Shalat Dhuha Rasulullah, riwayat yang paling kuat dari perbuatan beliau adalah 8 rakaat, dan jumlah rakaat paling banyak dari perkataan beliau adalah 12 rakaat.” (Nailul Authar: /353) 

Rabu, 12 Desember 2012

TERUSLAH BERHARAP

Saat itu nampak Amir bin Rabi’ah sedang sibuk berkemas. Ia bersama istrinya Fatimah binti Al-Khathab sedang mempersiapkan perlengkapan dan bekal perjalanan hijrah menuju Habasyah.  Karena suatu keperluan Amir berpamitan keluar rumah. Saat itulah Umar bin Khathab, kakak kandung Fatimah datang. Rupanya kabar bahwa adik yang dicintainya akan meninggalkan Mekah sampai juga kepadanya. Dengan wajah sedih Umar yang ketika itu masih musyrik berkata,

“Apakah kalian akan benar-benar pergi wahai Ummu Abdillah?”
“Benar”  jawab Fathimah. “Kami akan pergi menuju belahan bumi Allah yang lain. Sebab kalian telah banyak menyakiti kami, dan memaksa kami untuk mengambil keputusan ini. Kami akan tinggal di sana, hingga Allah memberikan jalan keluar.” Sambung Fathimah.
 
“Semoga Allah menyertai kalian.” Ucap Umar lirih.
Fathimah mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Umar selembut itu sebelumnya. Ia terlihat begitu sedih dengan kepergian kami. Padahal sebelumnya tidak ada seorang pun dari kami melainkan pernah merasakan tindakan kasar dan kemarahannya.”

Tidak lama berselang, Amir pun kembali. Tapi Umar sudah pergi.


“Wahai Abu Abdillah, seandainya tadi kamu bertemu Umar, dan melihat raut kesedihannya karena kepergian kita.” Fatimah menceritakan.
“Apakah kamu masih berharap orang seperti dia akan mau masuk Islam?” Tanya Amir dengan nada sangsi.
“Ya.” Jawab Fathimah singkat.

“Umar tidak akan mungkin masuk Islam sampai keledainya masuk Islam duluan.” Ujar Amir dengan nada pesimis.
Amir berkata demikian karena sudah sangat sering menjadi sasaran tindak kekerasan Umar, bahkan hingga sesaat menjelang keislaman Umar.   
*Janganlah berbagai kesulitan menyebabkanmu berhenti berharap kebaikan. Dan jangan pernah menutup pintu untuk segala kemungkinan.   
 

*Disadur dan diterjemahkan dari buku 'Hakadza Hazamul Ya's' 

JANGAN berPUTUS asa

Selalu memiliki keyakinan. Selalu mempunyai semangat. Selalu memupuk harapan. Itulah sebagian sifat yang seharusnya melekat seorang mukmin. Ia tidak pernah mengenal sikap putus asa dalam kamus hidupnya. Sebab, putus asa berarti melemahnya keyakinan, lumpuhnya semangat, dan hilangnya harapan. Sedangkan ia mengerti bahwa Allah telah melarang itu, 

“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Sikap putus tidak akan pernah bisa menguasai hati orang beriman. Karena keputusasaan hanya akan mematikan gerak hidupnya, menjadikan kakinya tertanam dalam lumpur kelemahan, sehingga tidak mampu mengubah keadaan dirinya. Parahnya lagi tawakalnya berangsur-angsur  memudar, lalu berburuksangka kepada Allah. Karena itu ia selalu ingat akan teguran Tuhannya,
“Janganlah kamu sekalian berputusasa dari rahmat Allah. Tiada yang berputusasa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”
Ya. berputusasa berarti mendahului takdir. Sikap sok tahu. Seolah kegagalan sekarang adalah kegagalan esok, lusa dan seterusnya. Padahal tiada yang mengerti perkara apa dikemudian hari, kecuali Dia yang Maha Mengetahui.
Oleh itu, berbaiksangkalah kepada Allah. Sebab Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan persangkaannya. Jika baik, baik pula. Jika buruk, buruk pula.
Baginda Nabi menasihatkan, “Optimislah dalam meraih kebaikan, niscaya kalian akan mendapatkannya.” 
Berikutnya, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, atau ingin memetik buah kebikan sebelum benar-benar matang. Ada pepatah gurun mengatakan, “Siapa yang ingin memetik hasil sebelum waktunya, maka ia diganjar dengan kegagalan.”
Lalu, timbanglah segala keadaanmu dengan timbangan langit. Renungkan dengan logika langit. Agar lapang jiwamu, dan luas ruang pandangmu. Jangan hanya menimbang dengan logika bumi, sebab ia akan menghempaskanmu ke ruang yang gelap dan sempit.

*Disarikan dari bagian awal buku “Hakadza Hazamul Ya’s”  Salwa Al-Udhaidan. 

MENGUSIR si MALAS

“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesunngguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebajikan."
 (Al-Ankabut: 69)
Kesungguhan dan keluhuran cita-cita. Ya kesungguhan berarti keseriusan, ketelitian, tekun, dan tuntas. Kesungguhan kata Ibnu Qayyim adalah salah satu tanda kesempurnaan kita sebagai manusia,

“Kesempurnaan manusia terlatak pada keluhuran cita-cita yang akan mengangkatnya ke derajat yang tinggi, dan ilmu yang menunjukinya jalan menuju kemuliaan itu.”  

Kesuksesan dalam hidupmu tergantung kepada sejauh mana kegigihanmu. Dan keuletan adalah jalan paling mudah meraih tujuan.

Ingatlah Allah sejak engkau bangun dari tidurmu, maka Allah akan membimbingmu untuk selalu waspada. Malailah harimu dengan wudhu dan shalat maka Allah akan memutus belenggu setan dari dirimu.”

Penuhi harimu dengan aktivitas; mengasah pikiran, pekerjaan tangan, atau pun fisik, mengkaji berbagai persoalan, dan saat yang lain bersantai dan berkunjung ke sesama suadara.

Buatlah jadwal untuk setiap kegiantan yang akan kamu lakukan. Jika ada yang terlewatkan, berilah sangsi pada dirimu sendiri, misalnya dengan menunda sesuatu yang menyenangkan bagi jiwamu. Sebab menuruti apa yang disukaannya dalam keadaan demikian hanya akan menyebabkan nafsu semakin sulit untuk kamu kendalikan.

Konsumsilah makanan yang sesuai dengan kebutuhan badan kamu, dan bisa memberi kekuatan dan energy yang cukup.


Membaca doa berikut pada pagi dan sore hari,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kekhawatiran dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kezaliman manusia.”

Yakinkan dirimu bahwa kemalasan itu bukan karena kamu mengidap suatu penyakit fisik. Jika sakit, segeralah berobat.

Jika Anda tidak ingin lelah, maka bersusah payahlah sehingga Anda tidak lagi merasakan lelah. Jangan bermalas-malas, tapi jangan pula tergesa-gesa. Sebab, kemalasan menyebabkan kamu tidak bisa melakukan sesuatu, sedangkan ketergesa-gesaan akan menggerogoti kesabaranmu dalam menjalani proses segala urusan.

Ingat, bahwa malas adalah satu sifat orang munafik, “Dan apabila mereka hendak berdiri untuk shalat, mereka beridiri  dengan malas.” Allah menghasung agar kita membuang kemalasan dengan cara bersegera dan berlomba mengerjakan kebajikan.
Ingatlah, bahwa kemalasan adalah penyebab kegagalan. Sebagaimana ketekunan adalah jalan menuju sukses. Tidak ada orang yang bermalas-malan melainkan kegegalan adalah hasil yang pasti ia petik. Kemuliaan tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya. Dan bukan kepada orang yang menyia-nyiakan waktunya. Kemalasan adalah kekuatan bagi setan. Dengannya ia bisa leluasa menjadikan hidupmu mengalami kemandegan.
Ingatlah segala hal yang bisa memotivasimu untuk terus melanjutkan perjalanan;

“Kemalasan adalah kunci keburukan, melahirkan kefakiran dan hasilnya adalah kehancuran.”

“Tiga hal yang tida bisa dicari jalan penyelsaiannya; kefakiran yang bersatu dengan kemalasan, perdebatan yang dilatarbelakangi kedengkian,  dan sakit yang disebabkan karena usia yang sudah renta.”

“Orang yang capai karena melakukan kerja keras bisa tudur nyeyak berbantalkan batu cadas, sedangkan pemalas tidak akan bisa tidur dengan damai meski di atas bantal yang terbuat dari bulu yang halus.”


*Dikutip dan diterjemahkan dari tulisan DR. Muhammad Fathi.

KEFAKIRAN dan KEKAYAAN yang SEBENARNYA

Ketika kefakiran itu hanya dimaknai sebagai kekerungan atau ketiadaanmu secara materi, maka tak terbilang manusia benar-benar menjadi menjadi fakir. Sebab, kekuatan kemanusiaannya menjadi lemah dan rendah. Kesimpulan itu berubah menjadi rasa, sehingga merusak segala potensi dan kekuatan jiwanya.

Ketika kefakiran itu dimaknai sebagai ketiadaan wujud amal  baik pada diri kita, maka semua manusia berpeluang menjadi kaya. Kekuatan kemanusiaan kita akan bangkit, dan semua potensinya akan bermunculan.

Ketika rasa takut itu tertuju para kekurangan dan penderitaan hidup, maka kata ‘takut’ itu akan manafsirkan seratus kerendahan yang sebenarnya tidak menakutkan.

Akan tetapi ketika rasa takut itu tertuju kepada kepada kehidupan akhirat dan siksa-Nya, maka jadilah kata ‘takut’ itu simpul kemuliaan. Demikianlah agama Islam menjadikan pemeluknya manusia yang berjiwa besar. Orang yang tidak ada kalimat yang tertuju pada dirinya, “Orang itu sudah kalah jiwanya.”  (Ar-Rafi’i)


*Dari sebuah kitab yg tidak saya ingat judulnya.

seperti PELITA KACA seperti MUTIARA

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur: 35)


Harus jujur saya  akui bahwa ini adalah sebuah kelalaian. Sering membaca dan mendengar tapi luput dari pemaknaan dan penghayatan. Dan memang sering begitu. Betapa banyak ayat dibaca, betapa sering nasihat didengar, tapi hanya berlalu begitu saja.  Ah…untuk kesalahan yang ini saja rasanya saya harus banyak berucap istighfar. Saya baru termenung saat membaca penjelasan Syaikh Musthafa Al-Adawi Hafizhahullah mengenai maksud dari permisalan dalam ayat di atas.

Bahwa perumpamaan dalam ayat di atas adalah tentang hati. Ya tentang hati kita. Pertama, bahwa Allah lah sumber segala cahaya, segala kebaikan yang melekat pada segala sesuatu. Seperti sabda Rasulullah dalam salah satu doanya, “Yaa Allah, milik-Mu segala puji. Engkau adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi, dan siapa yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)

Lalu Allah memisalkan cahaya Allah di dalam hati orang-orang beriman adalah seperti lampu yang berada dalam ruang yang tak tembus cahaya. Dan lampu itu berada berada dalam wadah keca, sehingga cahayanya itu benar-benar terang dan merata ke seluruh ruangan. 

Dan lagi, kaca itu dengan kehalusannya, ia teramat kuat dan keras seperti mutiara. Demikianlah (seharusnya) hati seorang mukmin. Hati yang putih bersih, halus tapi sangat kuat. Di sinilah letak keunikan hati orang yang beriman; ia memiliki sifat yang halus, lembut, dan penyayang (Ali Imran: 159, Al-Fath: 29, dan Asy-Syu’ara: 215)   


Di saat yang sama ia juga memiliki sifat yang keras, kuat, dan kokoh. Kuat memegang kebenaran, kuat menghadapi cobaan, dan keras kepada musuh-musuh Allah, (At-Tahrim: 9, At-Taubah: 123) Cahaya seperti inilah yang menjadikan jiwa menjadi lapang. Lalu cahaya itu menerangi dan menjadi energi bagi seluruh jawarih. Sehingga tangan hanya memegang yang baik, kaki hanya melangkah menuju kebaikan, mata melihat dan telinga mendengar untuk mengambil pelajaran. Demikian pula lisan hanya mengucapkan perkataan yang yang ma’ruf, sedangkan otaknya berpikir bagaimana menambah pundi-pundi ketaatan. Demikianlah cahaya itu menyertai hati, menerangi rumah dengan cahaya iman, menjadi teman dan pengingat dalam perjalanan, penjaga disaat sendirian.

Lalu Allah melanjutkan permisalan yang indah ini, bahwa benderang cahaya lampu itu  berasal dari minyak pohon terbaik yang diberkati, zaitun. Dan lagi pohon zaitun itu tumbuh di tempat yang sangat ideal, yaitu di puncak bukit, sehingga pohon itu mendapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit hingga matahari terbenam. Pohon zaitun yang demikian akan tumbuh subur dan buahnya menghasilkan minyak yang berkuwalitas. Demikianlah hati orang yang beriman, kekuatan dan cahayanya berasal dari yang Maha Perkasa, kekuatan iman dan fitrah yang sehat. Kekuatan yang dibimbing oleh ilmu sehingga terbentuklah pribadi yang gemilang, yang bersih dan bersinar terang meskipun tidak disentuh api. Adapun ‘kegelapan’ sekitarnya, membuat cahayanya semakin terang. Ujian dan cobaan menjadikannya semakin kuat dan menjadi ladang kebaikan. 
Sungguh menakjubkan, si pemilik hati dengan segudang prestasi. Dengan segala kebaikan dan kesuksesannya melalui berbagai ujian, ia selalu menyadari bahwa semuanya semata-mata karunia Allah. Bukan karena dirinya. Tertutuplah pintu kesombongan, sehingga setan tak mampu menggelincirkannya.
“…Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”


Allahumma muqallibal qulub tsabbit qulubana 'ala dienika...



 
*Dikutip dan diadaptasi dari Syifaul Qulub, karya As-Syaikh Musthafa Al-Adawi.

Siapa Memilih untuk Menderita?

Ibnu Taimiyah berkata,“Jika seseorang merasakan kelezatan dan kebahagiaan bukan karena Allah, bukan pula di jalan Allah, maka ia tidak akan berkekalan. Ia akan segera bosan dan berpindah dari satu macam kelezatan pada kelezatan yang lain, dari seorang ke orang yang lain. Ia bisa menikmatinya dalam satu keadaan, namun tidak dalam keadaan yang lain. Bahkan sebaliknya, bisa jadi dia menderita karenanya, hingga bahagia itu menyiksa batinnya.”
Ketahuilah, siapa saja yang mencintai sesuatu karena selain Allah, maka yang cintainya hanya akan menyakitinya, dan menjadi penyebab hatinya tersiksa; baik cintanya terbalas ataupun tertolak. Sebab, jika ia tidak bisa meraihnya, ia akan menderita dan tersiksa karena terpisah, jika ia mendapatinya pun, deritanya akan lebih banyak dari kelezatannya, mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya. Alhasil, cinta kepada makhluk akan menjadi becana baginya, kecuali cinta karena Allah, dan di jalan Allah. Cinta seperti itulah yang akan menjadi keindahan dan kesempurnaan sebagai hambaNya.” (Ad-Durar min Kalami Syaikhil Islam)

CITA-CITA para JUARA

Sejarah mencatat sebuah peristiwa ‘sederhana’ yang terjadi belasan abad silam. Empat orang pemuda sedang berada di Ka’bah, dekat Rukun  Yamani. Mereka adalah tiga bersaudara; Abdullah bin Zubair, Thalhah bin Zubair dan Urwah bin Zubair. Sedangkan satunya lagi adalah Abdul Malik bin Marwan. Di tempat yang mulia itu mereka berbincang-bincang tentang cita-cita.
“Aku bercita-cita ingin menjadi penguasa Hijaz.” Kata Abdullah.
“Aku ingin menjadi penguasa Irak.” Kata Thalhah.”
“Aku ingin menjadi seorang alim yang terpercaya.” Ungkap Urwah.
“Jika kalian merasa puas dengan cita-cita kalian, maka saya pun bercita-cita ingin menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin.” Pungkas Abdul Malik.
Obrolan singkat ini dicatat oleh sejarah. Dan akhirnya sejarah pula yang menjadi saksi bahwa mereka tidak sedang berangan-angan. Abdullah berhasil meraih cita-citanya menjadi pemimpin Hijaz. Thalhah menjadi gubernur Irak. Sedangkan Urwah mejadi ulama terkemuka di kalangan tabi’in, orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari bibinya, Aisyah Radhiyallhu’anha. Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berhasil menduduki kursi kekhalifahan.

Beda Cita-cita, Beda Angan-Angan
Jika untuk meraih cita-cita kau menempuh proses yang sealur dengan titik yang hedak kau tuju. Kau mengenali tabiat perjalanan, siap membayar harga untuk sampai di tempat tujuan yang dicita-citakan. Berarti kau benar-benar sedang bercita-cita. Tetapi jika sebaliknya, jalan yang kau tempuh justru berbelok arah dari titik tujuan, atau menunda pekerjaan di setiap tahapan perjalanan, dan tidak siap membayar harga yang sepadan dengan harapan, sadarlah bahwa kau sedang berangan-angan, sedang mempersiapkan kegagalan.

Apa Adanya, Mengalir Seperti Air
Seperti halnya saya, dan mungkin juga Anda pernah ditanya tentang rencana kehidupan. Lalu saya jawab, “Santai aja. Biarkan hidup mengalir seperti air.” Sebuah jawaban yang kadang sering diartikan sebagai 'hidup tanpa arah, tanpa rencana, dan liar'. Padahal tabiat air justru sungguh konsisten, selalu menuju satu titik yang pasti. Yaitu titik paling rendah yang bisa dacapainya. Jika pun ada rintangan yang menghadang di hadapan, maka dia tidak akan pernah berhenti berusaha, mencari celah, atau harus mendaki dahulu untuk kemudian menemukan jalan turun, muara adalah ujungnya. Atau ia habis dalam perjalanan sebelum sampai di tujuan, akan tetapi ia telah membuktikan bahwa ia sudah bergerak, mengalir  dan memberi arti bagi kehidupan.
Kau ada jika memiliki cita-cita. Dan kau benar-benar ada jika kau mau menempuh jalan, dan membayar harga untuk cita-citamu. Sebab, kesuksesan itu menjadi berkesan dan layak dikenang karena proses untuk menuju, dan harga yang diberikan untuk hasil yang kau ingin.

SATU berbanding SERIBU

Ini tentang kualitas, tentang sedikit tapi banyak. Tentang individu yang menjelma menjadi umat.


Pasukan Islam yang dipimpin Qataibah bin Muslim berhadapan dengan pasukan At-Turk yang seolah tak berujung. Mereka serasa seperti beberapa ekor semut berhadapan dengan sepasukan gajah. Disaat-saat genting seperti ini. Qutaibah menyadari bahwa ia membutuhkan seorang kesatria yang sebanding dengan seribu pasukan.

“Dimana Muhammad bin Wasi’? tanya sang panglima.
Tidak ada jawaban.
“Tolong panggilkan Muhammad bin Wasi’, Saya membutuhkan beliau.”

Beberapa orang kudian menelisik barisan pasukan yang berdiri kokoh. Selang beberapa lama mereka menemukan Abdullah bin Wasi’ tengah di sisi lain pasukan itu. Ia berdiri dengan bertumpu pada tombaknya, sementara teluntuk tangan kanannya menunjuk ke langit. Menyaksikan hal tersebut utusan Qutaibah memilih untuk memutar badan dan kembali menemui sang komandan.
"Mana Abdullah bin Wasi’? Tanya Qutaibah penasaran.
“Dia berada di sisi kanan pasukan ini.” Jawab salah seorang dari mereka.
“Apa yang sedang dia lakukan di sana?” Tanya Qutaibah lagi.
“Dia sedang berdoa.”
“Jari telunjuk Abdullah bin Wasi’ itu lebih aku sukai daripada seribu bilah pedang. Dan lebih aku pecayai daripada seratus orang pemuda yang terampil berperang. Sungguh, jika jari telunjuk Muhammad bin Wasi’ sudah diangkat untuk berdoa, maka doanya akan naik menembus pintu langit dan akan dikabulkan.”

***
Al-Alla’ Al-Hadhrami berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khathab di Madinah.

Assalamualaikum…
Besama surat ini kami sampaikan bahwa kami membutuhkan bantuan pasukan. Jumlah yang kami butuhkan adalah 4000 pasukan.”

Wassalamu'alaikum.
 
Setelah menerima surat tersebut, Khalifah Umar kemudian memanggil empat orang. Ya, hanya empat orang. Mereka kemudian diberi surat pengantar untuk disampaikan kepada Al-Alla’ Al-Hadhrami, isi suratnya adalah sebagai beriukut:

“Surat Anda yang berisi permintaan bantuan pasukan sejumlah 4000 orang telah saya terima dan saya baca. Maka besama surat ini saya kirimkan untukmu empat orang, masing-masing sebanding dengan seribu orang pasukan. Pempimnnya adalah Ubadah bin Shamit, orang yang suaranya di medan tempur lebih dahsyat daripada satu kompi pasukan, lalu bagaimana dengan pedangnya?”
Wassalamu'alaik warahmatullah*
*Dikutip dari: "Al-Manarat Asy-Syakhshiyah" 

Selasa, 11 Desember 2012

MATI sebelum MATI

Pada mulanya kau mendengar dan menyakiskan
Ada janji dan kesanggupan

Berganti alam
Kau awali kehadiranmu dengan tangis
Selanjutnya tertawa, menghibur dan mengundang senyum
Kau timang bahagia di hati mereka

Bekal perjalanan sudah dipersiapkan
Pendengaran lalu penglihatan
Dan hati
Agar kau bersyukur.
Berjalan searah tujuan penciptaan.
Telinga mendengarkan
Mata memandang
Hati menyerap setiap pelajaran
Lalu terpahat indah
Menjadi hidup
Menjadi gerak
Tapi, adakah setiap yang kau dengar dan lihat terserap menjadi pelajaran?
Atau sebenarnya kau buta dan tuli?
hanya onggokan daging yg tak memiliki kehidupan?
Jika panggilan kehidupan itu tidak juga kau pedulikan
Bersiaplah untuk mati sebelum datangnya kematian.
 

SYUKUR

Seorang lelaki mendatangi Yunus bin Ubaid. Lelaki itu mengeluhkan kesulitannya, tentang ekonominya yang seret, tentang kesedihannya.
Setelah mendengar keluh-kesah tamunya ini, Yunus bin Ubaid bertanya,
“Apakah kamu mau jika aku membeli penglihatanmu dengan 100 ribu dinar?
“Tentu tidak.” Jawabnya.
“Kalau pendengaranmu?”
“Tidak.”
“Jika dengan lisanmu?” tanyanya lagi.
“Jelas saya tidak mau.”
“Kalau dengan akalmu?”
“Apalagi dengan akalku, aku lebih tidak mau.”
Kemudian Yunus bin Ubaid mengingatkannya dengan nikmat yang masih Allah berikan padanya. Kemudian beliau berkata, “Aku menyaksikan ratusan ribu nikmat pada dirimu, akan tetapi kamu masih saja mengeluhkan keadaanmu.”


Fabiayyiaalaaairabbikuma tikadzdzibaaan?

Hidup = Gerak

Mendekati akhir, menelusuri tulisan di 'rumah lama' saya tersenyum. Ternyata ada ya tulisan saya yang seperti ini. O ya, ketika menulisnya saya sedang merasa jenuh dengan setumpuk pekerjaan yang seolah tiada habisnya. Lalu rehat sejenak, dan jadilah seperti ini:
 
Menyusuri tiap baris kalimat, menata titik dan koma, agar tak salah tertangkap makna. Membumikan pesan agar tumbuh, berbuah lebat, berdaun rindang. Mengubah pesan dari bumi gurun agar bercitarasa negeri seribu pulau. 

Dan ketika jiwa lelah terjebak jenuh.  Kau harus jujur bahwa ada sisi jiwamu yang hilang. Alpa dari mengeja ayat-ayatNya yang terhampar sejauh mata memandang, berganti gelap menuju terang, terbit dan terbenam, berganti warna beralih musim. Bisa saja kau beralasan bahwa jiwamu terbang tak terkurung dalam ruang. Namun tetap saja yang tersurat di situ dengan yang tersirat di sana berbeda rasa. Dan Bahwa geraklah yang menjadikan sesuatu disebut hidup. Seperti air yang mengalir hingga ke muara. Bergerak menyusuri lembah, merambah hutan, menuruni tebing, menikmati tarian ditiap kelokan, karena itulah yang menjadikan sungai jadi indah. Menjadikan yang mati jadi hidup. Hijau. Lalu perjalanan berakhir di muara. Bersatu bersama yang telah lebih dulu tiba di sana. Memulai perjalanan yang baru, menjadi awan berarak bersama angin, menjadi hujan, lalu menumbuhkan dan mengalir lagi. Jadi, hidupmu adalah gerak.

Inginmu Merengkuh Dunia

Jika kau perturutkan segala maumu, seakan bisa merengkuh seisi dunia, padahal ia akan merusakmu. Dan pada akhirnya kau sampai pada kesimpulan bahwa ternyata ia berakhir fana. Dan hakikat sejati adalah apa yang engkau perbuat untuk negeri akhirat.

Kemenangan duniawi selalu berujung kesedihan; Ia lepas dari genggamanmu, atau kaulah yang terpaksa meninggalkannya. Keduanya adalah keniscayaan. Kecuali kebajikan yang engkau perbuat karena Allah semata, ia selalu berakhir kebahagian, segera atau tertunda; yang segera adalah engkau tak bersedih dengan apa yang menjadikan mereka bersedih. Dihargai oleh kawan, dan disegani oleh lawan. Sedangkan di sana, balasannya adalah surga.

(IBN HAZM Al AL ANDALUSI)

DOA CINTA

Cinta memang kata yang tidak pernah lekang oleh zaman.
Lantunan bait syair tak pernah bisa mengungkapkannya dengan sempurna. Lautan tinta tak pernah mampu menulis semua kalimat yang tersimpan dalam pundi aksaranya. 
Lembaran kertas tak pernah cukup untuk menulisnya hakikatnya.
Tapi yang pasti, bahwa cinta itu hanya ada dua; cinta yang membawa seseorang semikin dekat dengan cinta sang Pencipta cinta. Atau sebaliknya, justru cinta mengundang murka sang Maha Pecinta, karena salah mengartikan cinta yang sejatinya adalah anugerahNya. Cinta yang berbalut nafsu, dusta, kepalsuan, hanya akan membuat tuli dan buta mata hati. Sedangkan kelak di akhirat akan menjadi penyesalan tak terperi. Seperti nasihat Nabi kepada salah seorang shahabat beliau (Abu Darda), "Cintamu pada sesuatu bisa membuatmu tuli dan buta." (HR. Abu Dawud)
Kata beliau lain kali, "Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya." (Muttafaq alaih)
Sulit memang mengawal gerak hati yang sangat halus, dan jika tidak waspada, tak jarang gerak hati itu ditunggangi oleh setan. Karenanya pantaslah jika kita selalu berdoa kepadaNya. Meminta cintaNya, cinta karena dan  untukNya. Alangkah indah doa yang dipanjatkan sang Nabi teladan,   
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ.
"Ya Allah, Aku pinta padaMu cintaMu dan cinta orang yang mencintaimu. Juga cinta kepada amal yang bisa mendekatkanku pada cintaMu." (HR. At-Tirmidzi)
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ.
"Yaa Allah, jadikanlah cinta kepadaMu sebagai cinta yang lebih, melampaui cintaku pada diriku, keluargaku, dan air dingin di musim panas." (HR. At-Tirmidzi) 
 اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنِى حُبُّهُ عِنْدَكَ. اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنِى مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِى فِيمَا تُحِبُّ اللَّهُمَّ وَمَا زَوَيْتَ عَنِّى مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ لِى فَرَاغًا فِيمَا تُحِبُّ
"Yaa Allah, beriknlah aku rezeki berupa cintaMu dan berikanlah aku cinta orang yang cintaku padanya mendatangkan manfaat bagiku di sisiMu. Ya Allah, apa yang aku cintai dan Engkau berikan ia kepadaku, jadikan jadikanlah ia sebagai kekuatan bagiku untuk meraih cintaMu. Ya Allah, apa yang engkau jauhkan dariku, meski ia sesuatu yang sangat aku cintai, berikanlah untukku dengan sesuatu yang Engaku cintai."(HR. At-Tirmidzi)

Senin, 10 Desember 2012

MEMOHON HATI yang SADAR

Suatu ketika al-Bukhari muda sedang mengikuti pelajaran gurunya, Ishaq bin Rahawaih. Ditengah pelajaran itu sang guru berujar, "Seandainya ada di antara kalian yang mengumpulkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam. Lalu menjadikannya dalam satu buku."
Di tempat dan waktu yang berbeda, adz-Dzahabi muda sedang asyik mencatat pelajaran dari gurunya, Imam ar-Razi. Sang guru mendekat dan menilik tulisan muridnya itu. Melihat tusan muridnya, ar-Razi berkomentar, "Catatanmu mirip sekali dengan tulisan para hali hadits."
Di zaman yang berbeda, Imam Ibnu Hajar sedang membaca salah satu buku karya Ibnu Khaldun, pakar sejarah dan Ilmu Sosial yang kesohor itu. Dalam buku itu Ibnu Hajar tercenung dengan sebuah ungkapan, ketika Ibnu Khaldun mengomentari Al-Jami' ash-Shahih karya al-Bukhari, "Syarh/penjelasan untuk Shahih Al-Bukhari ini menjadi hutang umat ini hingga hari ini." sejak saat itu Imam Ibnu Hajar bertekad mensyarh Shahih Bukhari sehingga jadilah kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari yang dikatakan syarh terbaik dari sekian banyak Syarh Shahih Bukhari yang lainnya.
Sumber Inspirasi
Tiga peristiwa yang nampak sepintas lalu itu barangkali tidak bagitu berkesan bagi kita. Namun ternyata perkataan guru mereka  menjadi motivasi  luar biasa. 
Diam-diam ungkapan sang guru itu melecut jiwa Al-Bukhari. Siang malam Al-Bukhari menghimpun, meneliti, dan memilah hadits, mengembara ke berbagai pelosok negeri, mendatangi ratusan ribu  periwayat hadits, sehingga dia berhasil mengumpulkan hadits-hadits shahih, yang kemudian kita kenal dengan Al-Jami' Ash-Shahih atau lebih akrab dengan sebutan Shahih Al-Bukhari, bahkan para ulama sepakat bahwa Shahih Bukhari adalah kitab paling shahih setelah kitabullah, Al-Quran.

 Demikian halnya dengan adz-Dzahabi, pujian sederhana sang guru membangkitkan jiwa Adz-Dzahabi, sehingga ia membulatkan tekad mejadi pakar hadits, bukan sekedar mirip tulisan. Akhirnya beliau benar-benar menjadi pakar dalam bidang hadits. Persetujuan beliau akan keshahihan atau lemahnya sebuah hadits dijadikan sebagai acuan oleh orang-orang setelah beliau.

Demikianlah perkataan atau tulisan seseorang bisa  bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi.
Jiwa yang bersih
Mengapa seringkali kita buntu untuk mendapat inspirasi? Mengapa terasa sulit untuk menuangkan ide?
Ketulusan hati, kejujuran dan ketaatan kepada Allah jualah yang menjadikan ide mereka begitu melimpah ruah, menjadi sumber ilmu pengetahuan, meninggalkan warisan berharga yang terus menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi manusia yang hidup sesudah mereka. Sebab, hati yang jernih dan tulus, akan membuahkan pikiran dan ide yang jernih, menembus ruang dan waktu, mengubah orang yang mendegar dan membacanya; menghibur yang sedih jadi bahagia, yang terlena jadi tersadar, yang alpa kembali dan selalu ingat kepadaNya. Sebaliknya, betapa banyak peristiwa, tak terhitung deretan kata yang kita baca, bahkan kita mengalami berbagai tahapan dalam hidup kita, namun jarang sekali yang berbuah menjadi sumber kekuatan untuk mengubah jiwa menjadi lebih baik.
Rabbi ampuni jiwa ini yang selalu lalai dari ayat-ayatMu
Abai akan titahMu…
Kurang syukur atas nikmatMu…
Berilah kami hati dan jiwa yang sadar jaga…

PERJALANAN menuju SENJA

Sejenak merenung diri
Tentang aku juga kau
Tentang kehadiranku juga kau di sini,
di dunia ini
tentang tujuan peciptaan yang bukan main itu
Hingga dimanakah perjalanan itu kini?
Adakah matahariku juga mataharimu masih bersinar esok hari?
Adakah aku dan kau menikmati senja yang indah itu nanti?
Ataukah matahriku dan juga mataharimu tenggelam sebelum senja itu tiba?
Saat aku dan juga kau, tutup usia.

Disinilah aku juga kau semestinya berhenti. Sesaat saja
Mengaca diri, itu yang kita perlukan senantiasa.
Adakah jalan ini menuju ke titik semula?
Jalan yang menaiki tangga syurganya
Ataukah sedang melaju menuju jurang neraka
Atau aku juga kau, sedang membuat sudut yang semakin besar
Semakin jauh dari tempat tujuan

Ketika aku dan kau asyik bermain dengan hari
Tak tersadar bahwa kita sudah sampai di sini
Di hari kita yang kesekian ini
Namun, masih saja kita sia-siakan hari yang tersisa
Padahal, sisa hari hari itu masih menjadi misteri
Sebab, sisa harimu mungkin saja hanya hari ini
Besok bukan milik kita,
Tunggu apa lagi, sekarang juga…!
Mari kembali membangun jiwa…!
"Perbaiki dirimu hari ini, Allah akan mengampuni harimu yang telah lalu." Katanya.*Suatu sore di pantai utara Lombok. (copasan dari blog lama)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan