Tampilkan postingan dengan label SALAF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SALAF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

TERUSLAH BERHARAP

Saat itu nampak Amir bin Rabi’ah sedang sibuk berkemas. Ia bersama istrinya Fatimah binti Al-Khathab sedang mempersiapkan perlengkapan dan bekal perjalanan hijrah menuju Habasyah.  Karena suatu keperluan Amir berpamitan keluar rumah. Saat itulah Umar bin Khathab, kakak kandung Fatimah datang. Rupanya kabar bahwa adik yang dicintainya akan meninggalkan Mekah sampai juga kepadanya. Dengan wajah sedih Umar yang ketika itu masih musyrik berkata,

“Apakah kalian akan benar-benar pergi wahai Ummu Abdillah?”
“Benar”  jawab Fathimah. “Kami akan pergi menuju belahan bumi Allah yang lain. Sebab kalian telah banyak menyakiti kami, dan memaksa kami untuk mengambil keputusan ini. Kami akan tinggal di sana, hingga Allah memberikan jalan keluar.” Sambung Fathimah.
 
“Semoga Allah menyertai kalian.” Ucap Umar lirih.
Fathimah mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Umar selembut itu sebelumnya. Ia terlihat begitu sedih dengan kepergian kami. Padahal sebelumnya tidak ada seorang pun dari kami melainkan pernah merasakan tindakan kasar dan kemarahannya.”

Tidak lama berselang, Amir pun kembali. Tapi Umar sudah pergi.


“Wahai Abu Abdillah, seandainya tadi kamu bertemu Umar, dan melihat raut kesedihannya karena kepergian kita.” Fatimah menceritakan.
“Apakah kamu masih berharap orang seperti dia akan mau masuk Islam?” Tanya Amir dengan nada sangsi.
“Ya.” Jawab Fathimah singkat.

“Umar tidak akan mungkin masuk Islam sampai keledainya masuk Islam duluan.” Ujar Amir dengan nada pesimis.
Amir berkata demikian karena sudah sangat sering menjadi sasaran tindak kekerasan Umar, bahkan hingga sesaat menjelang keislaman Umar.   
*Janganlah berbagai kesulitan menyebabkanmu berhenti berharap kebaikan. Dan jangan pernah menutup pintu untuk segala kemungkinan.   
 

*Disadur dan diterjemahkan dari buku 'Hakadza Hazamul Ya's' 

KEFAKIRAN dan KEKAYAAN yang SEBENARNYA

Ketika kefakiran itu hanya dimaknai sebagai kekerungan atau ketiadaanmu secara materi, maka tak terbilang manusia benar-benar menjadi menjadi fakir. Sebab, kekuatan kemanusiaannya menjadi lemah dan rendah. Kesimpulan itu berubah menjadi rasa, sehingga merusak segala potensi dan kekuatan jiwanya.

Ketika kefakiran itu dimaknai sebagai ketiadaan wujud amal  baik pada diri kita, maka semua manusia berpeluang menjadi kaya. Kekuatan kemanusiaan kita akan bangkit, dan semua potensinya akan bermunculan.

Ketika rasa takut itu tertuju para kekurangan dan penderitaan hidup, maka kata ‘takut’ itu akan manafsirkan seratus kerendahan yang sebenarnya tidak menakutkan.

Akan tetapi ketika rasa takut itu tertuju kepada kepada kehidupan akhirat dan siksa-Nya, maka jadilah kata ‘takut’ itu simpul kemuliaan. Demikianlah agama Islam menjadikan pemeluknya manusia yang berjiwa besar. Orang yang tidak ada kalimat yang tertuju pada dirinya, “Orang itu sudah kalah jiwanya.”  (Ar-Rafi’i)


*Dari sebuah kitab yg tidak saya ingat judulnya.

Siapa Memilih untuk Menderita?

Ibnu Taimiyah berkata,“Jika seseorang merasakan kelezatan dan kebahagiaan bukan karena Allah, bukan pula di jalan Allah, maka ia tidak akan berkekalan. Ia akan segera bosan dan berpindah dari satu macam kelezatan pada kelezatan yang lain, dari seorang ke orang yang lain. Ia bisa menikmatinya dalam satu keadaan, namun tidak dalam keadaan yang lain. Bahkan sebaliknya, bisa jadi dia menderita karenanya, hingga bahagia itu menyiksa batinnya.”
Ketahuilah, siapa saja yang mencintai sesuatu karena selain Allah, maka yang cintainya hanya akan menyakitinya, dan menjadi penyebab hatinya tersiksa; baik cintanya terbalas ataupun tertolak. Sebab, jika ia tidak bisa meraihnya, ia akan menderita dan tersiksa karena terpisah, jika ia mendapatinya pun, deritanya akan lebih banyak dari kelezatannya, mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya. Alhasil, cinta kepada makhluk akan menjadi becana baginya, kecuali cinta karena Allah, dan di jalan Allah. Cinta seperti itulah yang akan menjadi keindahan dan kesempurnaan sebagai hambaNya.” (Ad-Durar min Kalami Syaikhil Islam)

CITA-CITA para JUARA

Sejarah mencatat sebuah peristiwa ‘sederhana’ yang terjadi belasan abad silam. Empat orang pemuda sedang berada di Ka’bah, dekat Rukun  Yamani. Mereka adalah tiga bersaudara; Abdullah bin Zubair, Thalhah bin Zubair dan Urwah bin Zubair. Sedangkan satunya lagi adalah Abdul Malik bin Marwan. Di tempat yang mulia itu mereka berbincang-bincang tentang cita-cita.
“Aku bercita-cita ingin menjadi penguasa Hijaz.” Kata Abdullah.
“Aku ingin menjadi penguasa Irak.” Kata Thalhah.”
“Aku ingin menjadi seorang alim yang terpercaya.” Ungkap Urwah.
“Jika kalian merasa puas dengan cita-cita kalian, maka saya pun bercita-cita ingin menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin.” Pungkas Abdul Malik.
Obrolan singkat ini dicatat oleh sejarah. Dan akhirnya sejarah pula yang menjadi saksi bahwa mereka tidak sedang berangan-angan. Abdullah berhasil meraih cita-citanya menjadi pemimpin Hijaz. Thalhah menjadi gubernur Irak. Sedangkan Urwah mejadi ulama terkemuka di kalangan tabi’in, orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari bibinya, Aisyah Radhiyallhu’anha. Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berhasil menduduki kursi kekhalifahan.

Beda Cita-cita, Beda Angan-Angan
Jika untuk meraih cita-cita kau menempuh proses yang sealur dengan titik yang hedak kau tuju. Kau mengenali tabiat perjalanan, siap membayar harga untuk sampai di tempat tujuan yang dicita-citakan. Berarti kau benar-benar sedang bercita-cita. Tetapi jika sebaliknya, jalan yang kau tempuh justru berbelok arah dari titik tujuan, atau menunda pekerjaan di setiap tahapan perjalanan, dan tidak siap membayar harga yang sepadan dengan harapan, sadarlah bahwa kau sedang berangan-angan, sedang mempersiapkan kegagalan.

Apa Adanya, Mengalir Seperti Air
Seperti halnya saya, dan mungkin juga Anda pernah ditanya tentang rencana kehidupan. Lalu saya jawab, “Santai aja. Biarkan hidup mengalir seperti air.” Sebuah jawaban yang kadang sering diartikan sebagai 'hidup tanpa arah, tanpa rencana, dan liar'. Padahal tabiat air justru sungguh konsisten, selalu menuju satu titik yang pasti. Yaitu titik paling rendah yang bisa dacapainya. Jika pun ada rintangan yang menghadang di hadapan, maka dia tidak akan pernah berhenti berusaha, mencari celah, atau harus mendaki dahulu untuk kemudian menemukan jalan turun, muara adalah ujungnya. Atau ia habis dalam perjalanan sebelum sampai di tujuan, akan tetapi ia telah membuktikan bahwa ia sudah bergerak, mengalir  dan memberi arti bagi kehidupan.
Kau ada jika memiliki cita-cita. Dan kau benar-benar ada jika kau mau menempuh jalan, dan membayar harga untuk cita-citamu. Sebab, kesuksesan itu menjadi berkesan dan layak dikenang karena proses untuk menuju, dan harga yang diberikan untuk hasil yang kau ingin.

SATU berbanding SERIBU

Ini tentang kualitas, tentang sedikit tapi banyak. Tentang individu yang menjelma menjadi umat.


Pasukan Islam yang dipimpin Qataibah bin Muslim berhadapan dengan pasukan At-Turk yang seolah tak berujung. Mereka serasa seperti beberapa ekor semut berhadapan dengan sepasukan gajah. Disaat-saat genting seperti ini. Qutaibah menyadari bahwa ia membutuhkan seorang kesatria yang sebanding dengan seribu pasukan.

“Dimana Muhammad bin Wasi’? tanya sang panglima.
Tidak ada jawaban.
“Tolong panggilkan Muhammad bin Wasi’, Saya membutuhkan beliau.”

Beberapa orang kudian menelisik barisan pasukan yang berdiri kokoh. Selang beberapa lama mereka menemukan Abdullah bin Wasi’ tengah di sisi lain pasukan itu. Ia berdiri dengan bertumpu pada tombaknya, sementara teluntuk tangan kanannya menunjuk ke langit. Menyaksikan hal tersebut utusan Qutaibah memilih untuk memutar badan dan kembali menemui sang komandan.
"Mana Abdullah bin Wasi’? Tanya Qutaibah penasaran.
“Dia berada di sisi kanan pasukan ini.” Jawab salah seorang dari mereka.
“Apa yang sedang dia lakukan di sana?” Tanya Qutaibah lagi.
“Dia sedang berdoa.”
“Jari telunjuk Abdullah bin Wasi’ itu lebih aku sukai daripada seribu bilah pedang. Dan lebih aku pecayai daripada seratus orang pemuda yang terampil berperang. Sungguh, jika jari telunjuk Muhammad bin Wasi’ sudah diangkat untuk berdoa, maka doanya akan naik menembus pintu langit dan akan dikabulkan.”

***
Al-Alla’ Al-Hadhrami berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khathab di Madinah.

Assalamualaikum…
Besama surat ini kami sampaikan bahwa kami membutuhkan bantuan pasukan. Jumlah yang kami butuhkan adalah 4000 pasukan.”

Wassalamu'alaikum.
 
Setelah menerima surat tersebut, Khalifah Umar kemudian memanggil empat orang. Ya, hanya empat orang. Mereka kemudian diberi surat pengantar untuk disampaikan kepada Al-Alla’ Al-Hadhrami, isi suratnya adalah sebagai beriukut:

“Surat Anda yang berisi permintaan bantuan pasukan sejumlah 4000 orang telah saya terima dan saya baca. Maka besama surat ini saya kirimkan untukmu empat orang, masing-masing sebanding dengan seribu orang pasukan. Pempimnnya adalah Ubadah bin Shamit, orang yang suaranya di medan tempur lebih dahsyat daripada satu kompi pasukan, lalu bagaimana dengan pedangnya?”
Wassalamu'alaik warahmatullah*
*Dikutip dari: "Al-Manarat Asy-Syakhshiyah" 

Selasa, 11 Desember 2012

SYUKUR

Seorang lelaki mendatangi Yunus bin Ubaid. Lelaki itu mengeluhkan kesulitannya, tentang ekonominya yang seret, tentang kesedihannya.
Setelah mendengar keluh-kesah tamunya ini, Yunus bin Ubaid bertanya,
“Apakah kamu mau jika aku membeli penglihatanmu dengan 100 ribu dinar?
“Tentu tidak.” Jawabnya.
“Kalau pendengaranmu?”
“Tidak.”
“Jika dengan lisanmu?” tanyanya lagi.
“Jelas saya tidak mau.”
“Kalau dengan akalmu?”
“Apalagi dengan akalku, aku lebih tidak mau.”
Kemudian Yunus bin Ubaid mengingatkannya dengan nikmat yang masih Allah berikan padanya. Kemudian beliau berkata, “Aku menyaksikan ratusan ribu nikmat pada dirimu, akan tetapi kamu masih saja mengeluhkan keadaanmu.”


Fabiayyiaalaaairabbikuma tikadzdzibaaan?

Inginmu Merengkuh Dunia

Jika kau perturutkan segala maumu, seakan bisa merengkuh seisi dunia, padahal ia akan merusakmu. Dan pada akhirnya kau sampai pada kesimpulan bahwa ternyata ia berakhir fana. Dan hakikat sejati adalah apa yang engkau perbuat untuk negeri akhirat.

Kemenangan duniawi selalu berujung kesedihan; Ia lepas dari genggamanmu, atau kaulah yang terpaksa meninggalkannya. Keduanya adalah keniscayaan. Kecuali kebajikan yang engkau perbuat karena Allah semata, ia selalu berakhir kebahagian, segera atau tertunda; yang segera adalah engkau tak bersedih dengan apa yang menjadikan mereka bersedih. Dihargai oleh kawan, dan disegani oleh lawan. Sedangkan di sana, balasannya adalah surga.

(IBN HAZM Al AL ANDALUSI)

Minggu, 09 Desember 2012

LIMA KARAKTER SHAHABAT (2)



Melazimi Sunnah

Sunnah adalah perkataan, perbuatan maupun ketetapan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, baik yang beruapa perintah maupun larangan. Mengikuti sunnah Rasulullah berarti meneladani segala aspek kehidupan beliau; keyakinan, ibadah, akhlak, maupun muamalat beliau, menerima segala ketetapan beliau dan berhukum kepada syariat yang beliau bawa dengan sepenuh hati. Dan bagi seorang muslim, mengikuti sunnah adalah bukti kebenaran iman dan tanda kejujuran dari peryataan syahadatnya, wa asyhadu anna muhammad rasulullah.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa: 59)
“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khulufaur rasyidin yang mendapatkan pentunjuk setelahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (Muttafaq alaih)

Abu Bakar As-Shiddiq ridhiyallahu'anhu mengatakan, “Tidaklah aku lupa mengerjakan suatu amalan yang dikerjakan oleh Rasulllah n kecuali aku akan segera mengerjakannya. Sungguh aku merasa khawatir jika aku celaka disebabkan karena meninggalkan sebagian dari sunnah beliau n.”[1]

Mengenai betapa pentingnya mengikuti Sunnah, Imam Malik t mengatakan, “Sunnah ibarat bahtera Nabi Nuh; orang yang menaikinya akan selamat, sedangkan yang tidak mau menaikinya, ia akan tenggelam.”

Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan, “Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang sedikit jumlahnya di masa lampau, dan lebih sedikit lagi dari mereka yang masih tersisa. Yaitu orang-orang yang tidak  ikut-ikutan dengan orang-orang yang menyimpang, dan tidak pula bersama ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka tetap besabar di atas sunnah hingga mereka berjumpa dengan Rabb mereka. Mudah-mudahan demikian pula kalian adanya.”[2]

Kita hidup di zaman akhir, suatu masa yang penuh dengan fitnah, sunnah sudah hampir hilang, dan hawa nafsu mendominasi. Dampaknya, pemahaman dan timbangan menjadi terbalik; kebaikan dianggap kemungkaran, sebaliknya kemungkaran dianggap sebagai kebaikan, musuh dianggap kawan, sebaliknya saudara seiman dijadikan lawan, kebejatan didukung, sedangkan kebaikan diperangi, para ulama pembawa petunjuk dipinggirkan, sebaliknya para pemuja hawa nafsu dimunculkan jadi panutan…Khusyuk berganti kepura-puraan, dan amanat berganti khianat, keramaian di masjid-masjid  beralih ke tempat-tempat hiburan, mobilisasi umat untuk ikut andil memerangi musuh berubah menjadi seruan-seruan dan ajakan untuk menyaksikan panggung hiburan dan nyanyian. Keadaan kita persis seperti yang digambarkan oleh shahabat Abu Darda a, “Seandainya Rasulullah n keluar ke tengah-tengah kalian, niscaya beliau tidak mengenal kalian sebagai umatnya, kecuali karena shalat kalian.” [3]  

Bukankah beliau n telah menegaskan, “Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan golonganku.” (Muttafaq alaih)

Ya. Orang yang membenci sunnah Rasulullah kelak pada hari kiamat ia akan terusir dari telaganya, sedangkan orang-orang yang berpegang kepada sunnahnya akan bisa minum di hadapan beliau n dengan tenang, seteah itu ia tidak akan pernah merasakan haus lagi setelah itu, selamanya.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda kepada Anas bin Malik ridhiyallahu'anhu, “Kelak benar-benar akan diperlihatkan kepadaku  sekelompok manusia dari para shahabatkudi telagaku, hingga aku bisa mengenali mereka, kemudian mereka terhalang dari telagaku, hingga aku berkata, “Yaa Rabb, sahabatku…sahabatku.” Lalu diakatakan kepadaku, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.” (Muttafaq alaih)

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita termasuk golongan orang yang disinggung oleh Al-Auzai t, “Akan datang masanya dimana saudara yang menyayangi, atau dirham yang bersumber dari yang halal, atau amal yang kerjakan sesuai sunnah menjadi perkara yang langka.”[4]


[1] Al-Bukhari dan Muslim, Al-Lu’lu’ Wal Marjan hadits no.1150.

[2]  Ighatstullahfan oleh Ibnul Qayyim: 1/70.

[3]  Al-I’tisham oleh Abu Ishaq As-Syathibi, hal. 20.

[4]  Hilyatul Auliya: 8/355.

Sabtu, 08 Desember 2012

LIMA KARAKTER SHAHABAT (1)

Prolog 
Para shahabat Rasulullah Shallalhu'alaihiwasallam adalah generasi terbaik umat ini. Tidak akan pernah ada lagi generasi yang menandingi apalagi mengungguli mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai puncak keinginan dan impian setiap insan beriman, yaitu ridha Allah. Allah l berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (Muttafaq alaih)
Maka sudah seharusnya kita meneladani mereka, sebab mereka adalah generasi terbaik; mereka adalah representasi dari praktik berislam yang kafah. Mereka adalah sekumpulan manusia yang paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, menjadi penolong dan berjihad bersama Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam.    
Setelah bergaul dan merenungkan, seorang pembesar tabi’in, Imam Al-Auzai menyimpukan bahwa ada lima karakter yang selalu ada pada setiap shahabat Rasulullah sekaligus karakter orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Beliau mengatakan, “Lima hal yang para para shahabat Rasulullah n dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka selalu berada diatas lima hal tersebut, yaitu: melazimi jama’ah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an, dan jihad fie sabilillah.”[1]
Melazimi Al-Jama’ah
Al-jama’ah memiliki dua bentuk dan pengertian; pertama al-jama’ah dalam arti al-haq (kebenaran). Dalam pengertian ini, berpegang teguh kepada al-jama’ah berarti berpegang teguh kepada kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah n. Kaitan dengan pengertian ini Ibnu Mas’ud mengatakan, “Al-Jama’ah adalah engkau berpegang teguh kepada kebenaran meskipun engkau sendirian.” Oleh karena itulah orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah disebut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. 
Kedua, al-jama’ah berarti jama’ah kaum muslimin, yaitu kekhilafahan Islam. Dalam pengertian ini berpegang teguh kepada al-jama’ah artinya taat dan patuh kepada imam/khalifah kaum muslimin dan tidak keluar darinya. Sebab wujudnya jama’ah dalam pengertian khilafah akan berfungsi sebagai penjaga dan pengikat urusan agama dan pengatur urusan dunia umat Islam secara kolektif. Sebaiknya ketiadaannya berakibat terceraiberainya urusan agama dan dunia umat Islam.  
Rasulullah n menegaskan,
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ
“Hendaknya kalian selalu bersama jamaah, dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian dan setan akan lebih jauh dari dua orang.”
Untuk kondisi hari ini al-jama’ah dalam pengertian yang kedua jelas tidak ada. Tidak ada kekhalifahan Islam. Sehingga yang kita upayakan adalah jam’ah dalam pengertian yang sederhana yaitu berusaha untuk senantiasa berada dilingkungan orang-orang yang akrab dengan kebaikan, bergaul dengan komunitas yang mendukung kita untuk selalu berada di atas kebenaran.  
Bilal bin Sa’d berkata, “Saudaramu adalah yang jika berjumpa denganmu ia senantiasa mengingatkanmu kepada Allah, dan menunjukkanmu kekurangan dirimu, saudara seperti itu lebih baik bagimu daripada saudara yang setiap kali menemuimu ia memberikan uang kepadamu.”[2]
Al-Hasan Al-Bashri t “Suadara seiman lebih kami cintai daripada keluarga kami. Sebab, suadara seiman mengingatkan kami pada akhirat, sedangkan keluarga kami selalu mengingatkan kami urusan dunia.”[3] 
Muhammad bin Yusuf t mengatakan, “Apakah yang semisal dengan saudara seiman yang shalih? Kelak, keluargamu akan membagi harta warisan yang kau tinggalkan, bersenang-senang dengan harta yang engkau wariskan, sedangkan dia –audara seiman- berdiri disamping kuburmu, mengingat apa yang telah engaku perbuat dan kemana Anda kembali. Kemudian dia mendoakanmu dalam gelap malam, ketika dirimu berada dalam himpitan tanah kuburan.”[4]


[1] Bahjatul Majalis: 3/140 oleh Al-Qurthubi.
[2]  Hilyatul Auliya: 5/225.
[3]  Az-Zuhd oleh Ibnu Mubarak hal. 106.
[4]  Ihya Ulumuddien: 2/186.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan