Sabtu, 08 Desember 2012

LIMA KARAKTER SHAHABAT (1)

Prolog 
Para shahabat Rasulullah Shallalhu'alaihiwasallam adalah generasi terbaik umat ini. Tidak akan pernah ada lagi generasi yang menandingi apalagi mengungguli mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai puncak keinginan dan impian setiap insan beriman, yaitu ridha Allah. Allah l berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Rasulullah n bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” (Muttafaq alaih)
Maka sudah seharusnya kita meneladani mereka, sebab mereka adalah generasi terbaik; mereka adalah representasi dari praktik berislam yang kafah. Mereka adalah sekumpulan manusia yang paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, menjadi penolong dan berjihad bersama Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam.    
Setelah bergaul dan merenungkan, seorang pembesar tabi’in, Imam Al-Auzai menyimpukan bahwa ada lima karakter yang selalu ada pada setiap shahabat Rasulullah sekaligus karakter orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Beliau mengatakan, “Lima hal yang para para shahabat Rasulullah n dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka selalu berada diatas lima hal tersebut, yaitu: melazimi jama’ah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an, dan jihad fie sabilillah.”[1]
Melazimi Al-Jama’ah
Al-jama’ah memiliki dua bentuk dan pengertian; pertama al-jama’ah dalam arti al-haq (kebenaran). Dalam pengertian ini, berpegang teguh kepada al-jama’ah berarti berpegang teguh kepada kebenaran, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah n. Kaitan dengan pengertian ini Ibnu Mas’ud mengatakan, “Al-Jama’ah adalah engkau berpegang teguh kepada kebenaran meskipun engkau sendirian.” Oleh karena itulah orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah disebut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. 
Kedua, al-jama’ah berarti jama’ah kaum muslimin, yaitu kekhilafahan Islam. Dalam pengertian ini berpegang teguh kepada al-jama’ah artinya taat dan patuh kepada imam/khalifah kaum muslimin dan tidak keluar darinya. Sebab wujudnya jama’ah dalam pengertian khilafah akan berfungsi sebagai penjaga dan pengikat urusan agama dan pengatur urusan dunia umat Islam secara kolektif. Sebaiknya ketiadaannya berakibat terceraiberainya urusan agama dan dunia umat Islam.  
Rasulullah n menegaskan,
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ
“Hendaknya kalian selalu bersama jamaah, dan jauhilah perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian dan setan akan lebih jauh dari dua orang.”
Untuk kondisi hari ini al-jama’ah dalam pengertian yang kedua jelas tidak ada. Tidak ada kekhalifahan Islam. Sehingga yang kita upayakan adalah jam’ah dalam pengertian yang sederhana yaitu berusaha untuk senantiasa berada dilingkungan orang-orang yang akrab dengan kebaikan, bergaul dengan komunitas yang mendukung kita untuk selalu berada di atas kebenaran.  
Bilal bin Sa’d berkata, “Saudaramu adalah yang jika berjumpa denganmu ia senantiasa mengingatkanmu kepada Allah, dan menunjukkanmu kekurangan dirimu, saudara seperti itu lebih baik bagimu daripada saudara yang setiap kali menemuimu ia memberikan uang kepadamu.”[2]
Al-Hasan Al-Bashri t “Suadara seiman lebih kami cintai daripada keluarga kami. Sebab, suadara seiman mengingatkan kami pada akhirat, sedangkan keluarga kami selalu mengingatkan kami urusan dunia.”[3] 
Muhammad bin Yusuf t mengatakan, “Apakah yang semisal dengan saudara seiman yang shalih? Kelak, keluargamu akan membagi harta warisan yang kau tinggalkan, bersenang-senang dengan harta yang engkau wariskan, sedangkan dia –audara seiman- berdiri disamping kuburmu, mengingat apa yang telah engaku perbuat dan kemana Anda kembali. Kemudian dia mendoakanmu dalam gelap malam, ketika dirimu berada dalam himpitan tanah kuburan.”[4]


[1] Bahjatul Majalis: 3/140 oleh Al-Qurthubi.
[2]  Hilyatul Auliya: 5/225.
[3]  Az-Zuhd oleh Ibnu Mubarak hal. 106.
[4]  Ihya Ulumuddien: 2/186.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan