Tampilkan postingan dengan label KHAWATHIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHAWATHIR. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Maret 2013
Rabu, 12 Desember 2012
JANGAN berPUTUS asa
Selalu
memiliki keyakinan. Selalu mempunyai semangat. Selalu memupuk harapan.
Itulah sebagian sifat yang seharusnya melekat seorang mukmin. Ia tidak
pernah mengenal sikap putus asa dalam kamus hidupnya. Sebab, putus asa
berarti melemahnya keyakinan, lumpuhnya semangat, dan hilangnya
harapan. Sedangkan ia mengerti bahwa Allah telah melarang itu,
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Sikap
putus tidak akan pernah bisa menguasai hati orang beriman. Karena
keputusasaan hanya akan mematikan gerak hidupnya, menjadikan kakinya
tertanam dalam lumpur kelemahan, sehingga tidak mampu mengubah keadaan
dirinya. Parahnya lagi tawakalnya berangsur-angsur memudar, lalu
berburuksangka kepada Allah. Karena itu ia selalu ingat akan teguran
Tuhannya,
“Janganlah kamu sekalian berputusasa dari rahmat Allah. Tiada yang berputusasa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” Ya. berputusasa berarti mendahului takdir. Sikap sok tahu. Seolah kegagalan sekarang adalah kegagalan esok, lusa dan seterusnya. Padahal tiada yang mengerti perkara apa dikemudian hari, kecuali Dia yang Maha Mengetahui.
Oleh itu, berbaiksangkalah kepada Allah. Sebab Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan persangkaannya. Jika baik, baik pula. Jika buruk, buruk pula.
Baginda Nabi menasihatkan, “Optimislah dalam meraih kebaikan, niscaya kalian akan mendapatkannya.”
Berikutnya, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, atau ingin memetik buah kebikan sebelum benar-benar matang. Ada pepatah gurun mengatakan, “Siapa yang ingin memetik hasil sebelum waktunya, maka ia diganjar dengan kegagalan.”
Lalu, timbanglah segala keadaanmu dengan timbangan langit. Renungkan dengan logika langit. Agar lapang jiwamu, dan luas ruang pandangmu. Jangan hanya menimbang dengan logika bumi, sebab ia akan menghempaskanmu ke ruang yang gelap dan sempit.
*Disarikan dari bagian awal buku “Hakadza Hazamul Ya’s” Salwa Al-Udhaidan.
Selasa, 11 Desember 2012
MATI sebelum MATI
Pada mulanya kau mendengar dan menyakiskan
Ada janji dan kesanggupan
Berganti alam
Kau awali kehadiranmu dengan tangis
Selanjutnya tertawa, menghibur dan mengundang senyum
Kau timang bahagia di hati mereka
Bekal perjalanan sudah dipersiapkan
Pendengaran lalu penglihatan
Dan hati
Agar kau bersyukur.
Berjalan searah tujuan penciptaan.
Telinga mendengarkan
Mata memandang
Hati menyerap setiap pelajaran
Lalu terpahat indah
Menjadi hidup
Menjadi gerak
Tapi, adakah setiap yang kau dengar dan lihat terserap menjadi pelajaran?
Atau sebenarnya kau buta dan tuli?
hanya onggokan daging yg tak memiliki kehidupan?
Jika panggilan kehidupan itu tidak juga kau pedulikan
Bersiaplah untuk mati sebelum datangnya kematian.
Ada janji dan kesanggupan
Berganti alam
Kau awali kehadiranmu dengan tangis
Selanjutnya tertawa, menghibur dan mengundang senyum
Kau timang bahagia di hati mereka
Bekal perjalanan sudah dipersiapkan
Pendengaran lalu penglihatan
Dan hati
Agar kau bersyukur.
Berjalan searah tujuan penciptaan.
Telinga mendengarkan
Mata memandang
Hati menyerap setiap pelajaran
Lalu terpahat indah
Menjadi hidup
Menjadi gerak
Tapi, adakah setiap yang kau dengar dan lihat terserap menjadi pelajaran?
Atau sebenarnya kau buta dan tuli?
hanya onggokan daging yg tak memiliki kehidupan?
Jika panggilan kehidupan itu tidak juga kau pedulikan
Bersiaplah untuk mati sebelum datangnya kematian.
Hidup = Gerak
Mendekati
akhir, menelusuri tulisan di 'rumah lama' saya tersenyum. Ternyata ada
ya tulisan saya yang seperti ini. O ya, ketika menulisnya saya sedang
merasa jenuh dengan setumpuk pekerjaan yang seolah tiada habisnya. Lalu
rehat sejenak, dan jadilah seperti ini:
Menyusuri
tiap baris kalimat, menata titik dan koma, agar tak salah tertangkap
makna. Membumikan pesan agar tumbuh, berbuah lebat, berdaun rindang.
Mengubah pesan dari bumi gurun agar bercitarasa negeri seribu pulau. Dan ketika jiwa lelah terjebak jenuh. Kau harus jujur bahwa ada sisi jiwamu yang hilang. Alpa dari mengeja ayat-ayatNya yang terhampar sejauh mata memandang, berganti gelap menuju terang, terbit dan terbenam, berganti warna beralih musim. Bisa saja kau beralasan bahwa jiwamu terbang tak terkurung dalam ruang. Namun tetap saja yang tersurat di situ dengan yang tersirat di sana berbeda rasa. Dan Bahwa geraklah yang menjadikan sesuatu disebut hidup. Seperti air yang mengalir hingga ke muara. Bergerak menyusuri lembah, merambah hutan, menuruni tebing, menikmati tarian ditiap kelokan, karena itulah yang menjadikan sungai jadi indah. Menjadikan yang mati jadi hidup. Hijau. Lalu perjalanan berakhir di muara. Bersatu bersama yang telah lebih dulu tiba di sana. Memulai perjalanan yang baru, menjadi awan berarak bersama angin, menjadi hujan, lalu menumbuhkan dan mengalir lagi. Jadi, hidupmu adalah gerak.
DOA CINTA
Cinta memang kata yang tidak pernah lekang oleh zaman.
Lantunan bait syair tak pernah bisa mengungkapkannya dengan sempurna. Lautan tinta tak pernah mampu menulis semua kalimat yang tersimpan dalam pundi aksaranya.
Lantunan bait syair tak pernah bisa mengungkapkannya dengan sempurna. Lautan tinta tak pernah mampu menulis semua kalimat yang tersimpan dalam pundi aksaranya.
Lembaran kertas tak pernah cukup untuk menulisnya hakikatnya.
Tapi yang pasti, bahwa cinta itu hanya ada dua; cinta yang membawa seseorang semikin dekat dengan cinta sang Pencipta cinta. Atau sebaliknya, justru cinta mengundang murka sang Maha Pecinta, karena salah mengartikan cinta yang sejatinya adalah anugerahNya. Cinta yang berbalut nafsu, dusta, kepalsuan, hanya akan membuat tuli dan buta mata hati. Sedangkan kelak di akhirat akan menjadi penyesalan tak terperi. Seperti nasihat Nabi kepada salah seorang shahabat beliau (Abu Darda), "Cintamu pada sesuatu bisa membuatmu tuli dan buta." (HR. Abu Dawud)
Kata beliau lain kali, "Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya." (Muttafaq alaih)
Sulit memang mengawal gerak hati yang sangat halus, dan jika tidak waspada, tak jarang gerak hati itu ditunggangi oleh setan. Karenanya pantaslah jika kita selalu berdoa kepadaNya. Meminta cintaNya, cinta karena dan untukNya. Alangkah indah doa yang dipanjatkan sang Nabi teladan,
Tapi yang pasti, bahwa cinta itu hanya ada dua; cinta yang membawa seseorang semikin dekat dengan cinta sang Pencipta cinta. Atau sebaliknya, justru cinta mengundang murka sang Maha Pecinta, karena salah mengartikan cinta yang sejatinya adalah anugerahNya. Cinta yang berbalut nafsu, dusta, kepalsuan, hanya akan membuat tuli dan buta mata hati. Sedangkan kelak di akhirat akan menjadi penyesalan tak terperi. Seperti nasihat Nabi kepada salah seorang shahabat beliau (Abu Darda), "Cintamu pada sesuatu bisa membuatmu tuli dan buta." (HR. Abu Dawud)
Kata beliau lain kali, "Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya." (Muttafaq alaih)
Sulit memang mengawal gerak hati yang sangat halus, dan jika tidak waspada, tak jarang gerak hati itu ditunggangi oleh setan. Karenanya pantaslah jika kita selalu berdoa kepadaNya. Meminta cintaNya, cinta karena dan untukNya. Alangkah indah doa yang dipanjatkan sang Nabi teladan,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ.
"Ya
Allah, Aku pinta padaMu cintaMu dan cinta orang yang mencintaimu. Juga
cinta kepada amal yang bisa mendekatkanku pada cintaMu." (HR. At-Tirmidzi)
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ.
"Yaa
Allah, jadikanlah cinta kepadaMu sebagai cinta yang lebih, melampaui
cintaku pada diriku, keluargaku, dan air dingin di musim panas." (HR. At-Tirmidzi)
اللَّهُمَّ
ارْزُقْنِى حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنِى حُبُّهُ عِنْدَكَ.
اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنِى مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِى فِيمَا
تُحِبُّ اللَّهُمَّ وَمَا زَوَيْتَ عَنِّى مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ
لِى فَرَاغًا فِيمَا تُحِبُّ
"Yaa
Allah, beriknlah aku rezeki berupa cintaMu dan berikanlah aku cinta
orang yang cintaku padanya mendatangkan manfaat bagiku di sisiMu. Ya
Allah, apa yang aku cintai dan Engkau berikan ia kepadaku, jadikan
jadikanlah ia sebagai kekuatan bagiku untuk meraih cintaMu. Ya Allah,
apa yang engkau jauhkan dariku, meski ia sesuatu yang sangat aku cintai,
berikanlah untukku dengan sesuatu yang Engaku cintai."(HR. At-Tirmidzi) Senin, 10 Desember 2012
MEMOHON HATI yang SADAR
Suatu ketika
al-Bukhari muda sedang mengikuti pelajaran gurunya, Ishaq bin Rahawaih.
Ditengah pelajaran itu sang guru berujar, "Seandainya ada di antara
kalian yang mengumpulkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah
Shalallahu'alaihiwasallam. Lalu menjadikannya dalam satu buku."
Di tempat dan waktu yang berbeda, adz-Dzahabi muda sedang asyik mencatat pelajaran dari gurunya, Imam ar-Razi. Sang guru mendekat dan menilik tulisan muridnya itu. Melihat tusan muridnya, ar-Razi berkomentar, "Catatanmu mirip sekali dengan tulisan para hali hadits."
Di zaman yang berbeda, Imam Ibnu Hajar sedang membaca salah satu buku karya Ibnu Khaldun, pakar sejarah dan Ilmu Sosial yang kesohor itu. Dalam buku itu Ibnu Hajar tercenung dengan sebuah ungkapan, ketika Ibnu Khaldun mengomentari Al-Jami' ash-Shahih karya al-Bukhari, "Syarh/penjelasan untuk Shahih Al-Bukhari ini menjadi hutang umat ini hingga hari ini." sejak saat itu Imam Ibnu Hajar bertekad mensyarh Shahih Bukhari sehingga jadilah kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari yang dikatakan syarh terbaik dari sekian banyak Syarh Shahih Bukhari yang lainnya.
Sumber Inspirasi
Tiga peristiwa yang nampak sepintas lalu itu barangkali tidak bagitu berkesan bagi kita. Namun ternyata perkataan guru mereka menjadi motivasi luar biasa.
Di tempat dan waktu yang berbeda, adz-Dzahabi muda sedang asyik mencatat pelajaran dari gurunya, Imam ar-Razi. Sang guru mendekat dan menilik tulisan muridnya itu. Melihat tusan muridnya, ar-Razi berkomentar, "Catatanmu mirip sekali dengan tulisan para hali hadits."
Di zaman yang berbeda, Imam Ibnu Hajar sedang membaca salah satu buku karya Ibnu Khaldun, pakar sejarah dan Ilmu Sosial yang kesohor itu. Dalam buku itu Ibnu Hajar tercenung dengan sebuah ungkapan, ketika Ibnu Khaldun mengomentari Al-Jami' ash-Shahih karya al-Bukhari, "Syarh/penjelasan untuk Shahih Al-Bukhari ini menjadi hutang umat ini hingga hari ini." sejak saat itu Imam Ibnu Hajar bertekad mensyarh Shahih Bukhari sehingga jadilah kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari yang dikatakan syarh terbaik dari sekian banyak Syarh Shahih Bukhari yang lainnya.
Sumber Inspirasi
Tiga peristiwa yang nampak sepintas lalu itu barangkali tidak bagitu berkesan bagi kita. Namun ternyata perkataan guru mereka menjadi motivasi luar biasa.
Diam-diam ungkapan sang guru itu melecut jiwa
Al-Bukhari. Siang malam Al-Bukhari menghimpun, meneliti, dan memilah
hadits, mengembara ke berbagai pelosok negeri, mendatangi ratusan ribu
periwayat hadits, sehingga dia berhasil mengumpulkan hadits-hadits
shahih, yang kemudian kita kenal dengan Al-Jami' Ash-Shahih atau lebih
akrab dengan sebutan Shahih Al-Bukhari, bahkan para ulama sepakat bahwa
Shahih Bukhari adalah kitab paling shahih setelah kitabullah,
Al-Quran.
Demikian halnya dengan adz-Dzahabi, pujian sederhana sang guru membangkitkan jiwa Adz-Dzahabi, sehingga ia membulatkan tekad mejadi pakar hadits, bukan sekedar mirip tulisan. Akhirnya beliau benar-benar menjadi pakar dalam bidang hadits. Persetujuan beliau akan keshahihan atau lemahnya sebuah hadits dijadikan sebagai acuan oleh orang-orang setelah beliau.
Demikianlah perkataan atau tulisan seseorang bisa bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi.
Jiwa yang bersih
Mengapa seringkali kita buntu untuk mendapat inspirasi? Mengapa terasa sulit untuk menuangkan ide?
Ketulusan hati, kejujuran dan ketaatan kepada Allah jualah yang menjadikan ide mereka begitu melimpah ruah, menjadi sumber ilmu pengetahuan, meninggalkan warisan berharga yang terus menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi manusia yang hidup sesudah mereka. Sebab, hati yang jernih dan tulus, akan membuahkan pikiran dan ide yang jernih, menembus ruang dan waktu, mengubah orang yang mendegar dan membacanya; menghibur yang sedih jadi bahagia, yang terlena jadi tersadar, yang alpa kembali dan selalu ingat kepadaNya. Sebaliknya, betapa banyak peristiwa, tak terhitung deretan kata yang kita baca, bahkan kita mengalami berbagai tahapan dalam hidup kita, namun jarang sekali yang berbuah menjadi sumber kekuatan untuk mengubah jiwa menjadi lebih baik.
Rabbi ampuni jiwa ini yang selalu lalai dari ayat-ayatMu
Abai akan titahMu…
Kurang syukur atas nikmatMu…
Berilah kami hati dan jiwa yang sadar jaga…
Demikian halnya dengan adz-Dzahabi, pujian sederhana sang guru membangkitkan jiwa Adz-Dzahabi, sehingga ia membulatkan tekad mejadi pakar hadits, bukan sekedar mirip tulisan. Akhirnya beliau benar-benar menjadi pakar dalam bidang hadits. Persetujuan beliau akan keshahihan atau lemahnya sebuah hadits dijadikan sebagai acuan oleh orang-orang setelah beliau.
Demikianlah perkataan atau tulisan seseorang bisa bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi.
Jiwa yang bersih
Mengapa seringkali kita buntu untuk mendapat inspirasi? Mengapa terasa sulit untuk menuangkan ide?
Ketulusan hati, kejujuran dan ketaatan kepada Allah jualah yang menjadikan ide mereka begitu melimpah ruah, menjadi sumber ilmu pengetahuan, meninggalkan warisan berharga yang terus menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi manusia yang hidup sesudah mereka. Sebab, hati yang jernih dan tulus, akan membuahkan pikiran dan ide yang jernih, menembus ruang dan waktu, mengubah orang yang mendegar dan membacanya; menghibur yang sedih jadi bahagia, yang terlena jadi tersadar, yang alpa kembali dan selalu ingat kepadaNya. Sebaliknya, betapa banyak peristiwa, tak terhitung deretan kata yang kita baca, bahkan kita mengalami berbagai tahapan dalam hidup kita, namun jarang sekali yang berbuah menjadi sumber kekuatan untuk mengubah jiwa menjadi lebih baik.
Rabbi ampuni jiwa ini yang selalu lalai dari ayat-ayatMu
Abai akan titahMu…
Kurang syukur atas nikmatMu…
Berilah kami hati dan jiwa yang sadar jaga…
PERJALANAN menuju SENJA
Sejenak merenung diri
Tentang aku juga kau
Tentang kehadiranku juga kau di sini,
di dunia ini
tentang tujuan peciptaan yang bukan main itu
Hingga dimanakah perjalanan itu kini?
Adakah matahariku juga mataharimu masih bersinar esok hari?
Adakah aku dan kau menikmati senja yang indah itu nanti?
Ataukah matahriku dan juga mataharimu tenggelam sebelum senja itu tiba?
Saat aku dan juga kau, tutup usia.
Disinilah aku juga kau semestinya berhenti. Sesaat saja
Mengaca diri, itu yang kita perlukan senantiasa.
Adakah jalan ini menuju ke titik semula?
Jalan yang menaiki tangga syurganya
Ataukah sedang melaju menuju jurang neraka
Atau aku juga kau, sedang membuat sudut yang semakin besar
Semakin jauh dari tempat tujuan
Ketika aku dan kau asyik bermain dengan hari
Tak tersadar bahwa kita sudah sampai di sini
Di hari kita yang kesekian ini
Namun, masih saja kita sia-siakan hari yang tersisa
Padahal, sisa hari hari itu masih menjadi misteri
Sebab, sisa harimu mungkin saja hanya hari ini
Besok bukan milik kita,
Tunggu apa lagi, sekarang juga…!
Mari kembali membangun jiwa…!
"Perbaiki dirimu hari ini, Allah akan mengampuni harimu yang telah lalu." Katanya.*Suatu sore di pantai utara Lombok. (copasan dari blog lama)
Tentang aku juga kau
Tentang kehadiranku juga kau di sini,
di dunia ini
tentang tujuan peciptaan yang bukan main itu
Hingga dimanakah perjalanan itu kini?
Adakah matahariku juga mataharimu masih bersinar esok hari?
Adakah aku dan kau menikmati senja yang indah itu nanti?
Ataukah matahriku dan juga mataharimu tenggelam sebelum senja itu tiba?
Saat aku dan juga kau, tutup usia.
Disinilah aku juga kau semestinya berhenti. Sesaat saja
Mengaca diri, itu yang kita perlukan senantiasa.
Adakah jalan ini menuju ke titik semula?
Jalan yang menaiki tangga syurganya
Ataukah sedang melaju menuju jurang neraka
Atau aku juga kau, sedang membuat sudut yang semakin besar
Semakin jauh dari tempat tujuan
Ketika aku dan kau asyik bermain dengan hari
Tak tersadar bahwa kita sudah sampai di sini
Di hari kita yang kesekian ini
Namun, masih saja kita sia-siakan hari yang tersisa
Padahal, sisa hari hari itu masih menjadi misteri
Sebab, sisa harimu mungkin saja hanya hari ini
Besok bukan milik kita,
Tunggu apa lagi, sekarang juga…!
Mari kembali membangun jiwa…!
"Perbaiki dirimu hari ini, Allah akan mengampuni harimu yang telah lalu." Katanya.*Suatu sore di pantai utara Lombok. (copasan dari blog lama)
DiK,,,!
Untuk kedua adikku yang sedang berjuang di belakang menja ujian (Semester)…
Dik, teruslah belajar dan belajar…
Kalian memang masih kecil-kecil
Tapi akak bangga…bangga bukan main
Kalian sudah berani tinggalkan kampung halaman
Kalian sudah berani menyeberangi laut hingga di sini
Kalian sudah berani menabung kerinduan pada ayah bunda
Kalian sudah berani belajar hidup mandiri…
Kalian sudah banyak bertemu dan bergaul dengan berbagai ragam manusia…
Teruskan keberanian itu…
Teruskan…!
Rasa rindu itu, kalo ditabung, akan sangat manis ketika kita berjumpa nanti…
Rasa lapar ketika tiada lagi uang belanja, akan sangat berguna mengajari kita bagaimana bersyukur kepadaNya, berterimakasih pada ayah-bunda, pada guru, teman dan semuanya…
Jika sudah tak tahan rindu, datanglah kemari nanti selepas ujian…
Kita akan bercerita lagi…
Menyambung tawa dan rindu biar sampai di seberang sana…hingga di rumah ayah-bunda yang sederhana…
Dik, teruslah belajar dan belajar…
Kalian memang masih kecil-kecil
Tapi akak bangga…bangga bukan main
Kalian sudah berani tinggalkan kampung halaman
Kalian sudah berani menyeberangi laut hingga di sini
Kalian sudah berani menabung kerinduan pada ayah bunda
Kalian sudah berani belajar hidup mandiri…
Kalian sudah banyak bertemu dan bergaul dengan berbagai ragam manusia…
Teruskan keberanian itu…
Teruskan…!
Rasa rindu itu, kalo ditabung, akan sangat manis ketika kita berjumpa nanti…
Rasa lapar ketika tiada lagi uang belanja, akan sangat berguna mengajari kita bagaimana bersyukur kepadaNya, berterimakasih pada ayah-bunda, pada guru, teman dan semuanya…
Jika sudah tak tahan rindu, datanglah kemari nanti selepas ujian…
Kita akan bercerita lagi…
Menyambung tawa dan rindu biar sampai di seberang sana…hingga di rumah ayah-bunda yang sederhana…
BUKAN yang INI TAK ingin yang ITU
Untuk diriku selelu:
Jika hendak bercermin jiwa.
Cobalah cari dirimu dalam kalamNya...
Adakah kau berada dalam barisan ulaa-ika humul mukminuuna haqqa [mereka itulah mukmin yang sebenarnya]? atau jangan-jangan kau termasuk alladziina qaaluu amannaa bi-afwaahihim walam tukmin quluubuhum? [orang-orang yang berkata 'kami beriman' dengan mulut-mulut mereka, akan tetapi sajatinya hati mereka belum beriman]?
Adakah kau itu golongan alladzina fie shalatihim khsyi’un?
[orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya]
Atau sebaliknya orang yang waidza qaamuu ilasshalati qaamuu kusaalaa yuraa-uunannas?
[Jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas]
Apakah dirimu tergolong yang ‘anil laghwi mu’riduun?
[berpaling dari segala perkara yang tiada bermanfaat]
Atau justru termasuk yang wa kaana amruhum furuthaa?
[urusan mereka berlebihan dan sia-sia]
Termasuk ulaa-ika humus shadiqun?
[orang-orang yang benar imannya]Atau justru ulaa-ika humul katdzbuun?
[orang-orang yang dusta imannya]
Termasuk golongan yang alladziena hum liamaanatihim wa’ahdihim raa’uun?
[orang-orang yang menunaikan amanat dan memenuhi janji-janji ]
Atau justru termasuk ulaa-ika humul khaainuun?
[mereka itu termasuk golongan yang khianat]
Apakah kau tergolong wadzakirinallaha katsiira [yang banyak berdzikir kepada Allah]
atau malah barisan walaa yadzkurunallaha illa qaliila [Tidak berdzikir kepada Allah melainkan sedikit saja]
Dan aku menyadari bukan yang ini, tapi aku juga tak ingin menjadi yang itu. Bukan yang baik, tapi juga tak ingin menjadi yang buruk.
Oleh itu yaa Rabb, bantulah aku untuk menjadi seperti yang Engkau mau.
Jika hendak bercermin jiwa.
Cobalah cari dirimu dalam kalamNya...
Adakah kau berada dalam barisan ulaa-ika humul mukminuuna haqqa [mereka itulah mukmin yang sebenarnya]? atau jangan-jangan kau termasuk alladziina qaaluu amannaa bi-afwaahihim walam tukmin quluubuhum? [orang-orang yang berkata 'kami beriman' dengan mulut-mulut mereka, akan tetapi sajatinya hati mereka belum beriman]?
Adakah kau itu golongan alladzina fie shalatihim khsyi’un?
[orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya]
Atau sebaliknya orang yang waidza qaamuu ilasshalati qaamuu kusaalaa yuraa-uunannas?
[Jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas]
Apakah dirimu tergolong yang ‘anil laghwi mu’riduun?
[berpaling dari segala perkara yang tiada bermanfaat]
Atau justru termasuk yang wa kaana amruhum furuthaa?
[urusan mereka berlebihan dan sia-sia]
Termasuk ulaa-ika humus shadiqun?
[orang-orang yang benar imannya]Atau justru ulaa-ika humul katdzbuun?
[orang-orang yang dusta imannya]
Termasuk golongan yang alladziena hum liamaanatihim wa’ahdihim raa’uun?
[orang-orang yang menunaikan amanat dan memenuhi janji-janji ]
Atau justru termasuk ulaa-ika humul khaainuun?
[mereka itu termasuk golongan yang khianat]
Apakah kau tergolong wadzakirinallaha katsiira [yang banyak berdzikir kepada Allah]
atau malah barisan walaa yadzkurunallaha illa qaliila [Tidak berdzikir kepada Allah melainkan sedikit saja]
Dan aku menyadari bukan yang ini, tapi aku juga tak ingin menjadi yang itu. Bukan yang baik, tapi juga tak ingin menjadi yang buruk.
Oleh itu yaa Rabb, bantulah aku untuk menjadi seperti yang Engkau mau.
21.25
Unknown

