Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

HAMBA HAMBA ALLAH YANG MAHA PENYAYANG



Ibadurrahman (hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih), alangkah indah hidup mereka, alangkah lembut hati mereka, akhlak mulia adalah perhiasan mereka; senantiasa mengambil pelajaran dari segala kejadian, dari semua ciptaan; jika memandang langit, mereka berkata,
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang
Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bersinar  terang.
Malam dan siang adalah ayat Allah yang selalu mengingatakan mereka untuk selalu bersyukur dan mengambil pelajaran,
“Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
Mereka adalah orang-orang yang jauh dari sifat sombong, bangga diri, atau merasa lebih baik, mereka adalah orang yang rendah hati.
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang,
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.
Keburukan mereka balas dengan kebaikan, kejahilan mereka hadapi dengan hikmah, bagi mereka cacian orang-orang bodoh adalah angin lalu.
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
Ketika hari telah berselimut gelap, ketika manusia tengah larut dalam buaian mimpi-mimpi, mereka bangkit dan berdiri, menyucikan hati, mendekat diri kepada Ar-Rahman. 
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”
Namun demikian mereka tetap saja merasa khawatir jika amal mereka belum diterima, belum sempurna, belum cukup untuk mendapat ridhanya hingga mereka berkata,
"Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang abadi.”
Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kembali.
Mereka adalah orang-orang yang hidupnya bersahaja, sederhana saja; tidak pelit membelanjakan hartanya, juga tidak boros membelanjakannya untuk hal yang tidak berguna, atau melebihi batas kebutuhannya.
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Mereka hanya mengabdi kepada Allah, tiada kebaikana apapun bentuknya, melainkan ia niatkan hanya karena dan untuk mencari ridhaNya.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah.”
Mereka hamba-hamba yang penyang dan lembut hatinya, tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk mebunuh, meskipun hanya seekor serangga.
dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar.
Mereka adalah orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya, patang baginya mengotorinya dengan yang keji, zina adalah salah satunya;
dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
mereka adalah orang banyak bertaubat.
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya,
Mereka kekal di dalamnya. syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.


Rabu, 12 Desember 2012

seperti PELITA KACA seperti MUTIARA

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur: 35)


Harus jujur saya  akui bahwa ini adalah sebuah kelalaian. Sering membaca dan mendengar tapi luput dari pemaknaan dan penghayatan. Dan memang sering begitu. Betapa banyak ayat dibaca, betapa sering nasihat didengar, tapi hanya berlalu begitu saja.  Ah…untuk kesalahan yang ini saja rasanya saya harus banyak berucap istighfar. Saya baru termenung saat membaca penjelasan Syaikh Musthafa Al-Adawi Hafizhahullah mengenai maksud dari permisalan dalam ayat di atas.

Bahwa perumpamaan dalam ayat di atas adalah tentang hati. Ya tentang hati kita. Pertama, bahwa Allah lah sumber segala cahaya, segala kebaikan yang melekat pada segala sesuatu. Seperti sabda Rasulullah dalam salah satu doanya, “Yaa Allah, milik-Mu segala puji. Engkau adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi, dan siapa yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)

Lalu Allah memisalkan cahaya Allah di dalam hati orang-orang beriman adalah seperti lampu yang berada dalam ruang yang tak tembus cahaya. Dan lampu itu berada berada dalam wadah keca, sehingga cahayanya itu benar-benar terang dan merata ke seluruh ruangan. 

Dan lagi, kaca itu dengan kehalusannya, ia teramat kuat dan keras seperti mutiara. Demikianlah (seharusnya) hati seorang mukmin. Hati yang putih bersih, halus tapi sangat kuat. Di sinilah letak keunikan hati orang yang beriman; ia memiliki sifat yang halus, lembut, dan penyayang (Ali Imran: 159, Al-Fath: 29, dan Asy-Syu’ara: 215)   


Di saat yang sama ia juga memiliki sifat yang keras, kuat, dan kokoh. Kuat memegang kebenaran, kuat menghadapi cobaan, dan keras kepada musuh-musuh Allah, (At-Tahrim: 9, At-Taubah: 123) Cahaya seperti inilah yang menjadikan jiwa menjadi lapang. Lalu cahaya itu menerangi dan menjadi energi bagi seluruh jawarih. Sehingga tangan hanya memegang yang baik, kaki hanya melangkah menuju kebaikan, mata melihat dan telinga mendengar untuk mengambil pelajaran. Demikian pula lisan hanya mengucapkan perkataan yang yang ma’ruf, sedangkan otaknya berpikir bagaimana menambah pundi-pundi ketaatan. Demikianlah cahaya itu menyertai hati, menerangi rumah dengan cahaya iman, menjadi teman dan pengingat dalam perjalanan, penjaga disaat sendirian.

Lalu Allah melanjutkan permisalan yang indah ini, bahwa benderang cahaya lampu itu  berasal dari minyak pohon terbaik yang diberkati, zaitun. Dan lagi pohon zaitun itu tumbuh di tempat yang sangat ideal, yaitu di puncak bukit, sehingga pohon itu mendapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit hingga matahari terbenam. Pohon zaitun yang demikian akan tumbuh subur dan buahnya menghasilkan minyak yang berkuwalitas. Demikianlah hati orang yang beriman, kekuatan dan cahayanya berasal dari yang Maha Perkasa, kekuatan iman dan fitrah yang sehat. Kekuatan yang dibimbing oleh ilmu sehingga terbentuklah pribadi yang gemilang, yang bersih dan bersinar terang meskipun tidak disentuh api. Adapun ‘kegelapan’ sekitarnya, membuat cahayanya semakin terang. Ujian dan cobaan menjadikannya semakin kuat dan menjadi ladang kebaikan. 
Sungguh menakjubkan, si pemilik hati dengan segudang prestasi. Dengan segala kebaikan dan kesuksesannya melalui berbagai ujian, ia selalu menyadari bahwa semuanya semata-mata karunia Allah. Bukan karena dirinya. Tertutuplah pintu kesombongan, sehingga setan tak mampu menggelincirkannya.
“…Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”


Allahumma muqallibal qulub tsabbit qulubana 'ala dienika...



 
*Dikutip dan diadaptasi dari Syifaul Qulub, karya As-Syaikh Musthafa Al-Adawi.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan