Minggu, 09 Desember 2012

LIMA KARAKTER SHAHABAT (2)



Melazimi Sunnah

Sunnah adalah perkataan, perbuatan maupun ketetapan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, baik yang beruapa perintah maupun larangan. Mengikuti sunnah Rasulullah berarti meneladani segala aspek kehidupan beliau; keyakinan, ibadah, akhlak, maupun muamalat beliau, menerima segala ketetapan beliau dan berhukum kepada syariat yang beliau bawa dengan sepenuh hati. Dan bagi seorang muslim, mengikuti sunnah adalah bukti kebenaran iman dan tanda kejujuran dari peryataan syahadatnya, wa asyhadu anna muhammad rasulullah.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa: 59)
“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khulufaur rasyidin yang mendapatkan pentunjuk setelahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian.” (Muttafaq alaih)

Abu Bakar As-Shiddiq ridhiyallahu'anhu mengatakan, “Tidaklah aku lupa mengerjakan suatu amalan yang dikerjakan oleh Rasulllah n kecuali aku akan segera mengerjakannya. Sungguh aku merasa khawatir jika aku celaka disebabkan karena meninggalkan sebagian dari sunnah beliau n.”[1]

Mengenai betapa pentingnya mengikuti Sunnah, Imam Malik t mengatakan, “Sunnah ibarat bahtera Nabi Nuh; orang yang menaikinya akan selamat, sedangkan yang tidak mau menaikinya, ia akan tenggelam.”

Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan, “Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang sedikit jumlahnya di masa lampau, dan lebih sedikit lagi dari mereka yang masih tersisa. Yaitu orang-orang yang tidak  ikut-ikutan dengan orang-orang yang menyimpang, dan tidak pula bersama ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka. Mereka tetap besabar di atas sunnah hingga mereka berjumpa dengan Rabb mereka. Mudah-mudahan demikian pula kalian adanya.”[2]

Kita hidup di zaman akhir, suatu masa yang penuh dengan fitnah, sunnah sudah hampir hilang, dan hawa nafsu mendominasi. Dampaknya, pemahaman dan timbangan menjadi terbalik; kebaikan dianggap kemungkaran, sebaliknya kemungkaran dianggap sebagai kebaikan, musuh dianggap kawan, sebaliknya saudara seiman dijadikan lawan, kebejatan didukung, sedangkan kebaikan diperangi, para ulama pembawa petunjuk dipinggirkan, sebaliknya para pemuja hawa nafsu dimunculkan jadi panutan…Khusyuk berganti kepura-puraan, dan amanat berganti khianat, keramaian di masjid-masjid  beralih ke tempat-tempat hiburan, mobilisasi umat untuk ikut andil memerangi musuh berubah menjadi seruan-seruan dan ajakan untuk menyaksikan panggung hiburan dan nyanyian. Keadaan kita persis seperti yang digambarkan oleh shahabat Abu Darda a, “Seandainya Rasulullah n keluar ke tengah-tengah kalian, niscaya beliau tidak mengenal kalian sebagai umatnya, kecuali karena shalat kalian.” [3]  

Bukankah beliau n telah menegaskan, “Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan golonganku.” (Muttafaq alaih)

Ya. Orang yang membenci sunnah Rasulullah kelak pada hari kiamat ia akan terusir dari telaganya, sedangkan orang-orang yang berpegang kepada sunnahnya akan bisa minum di hadapan beliau n dengan tenang, seteah itu ia tidak akan pernah merasakan haus lagi setelah itu, selamanya.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda kepada Anas bin Malik ridhiyallahu'anhu, “Kelak benar-benar akan diperlihatkan kepadaku  sekelompok manusia dari para shahabatkudi telagaku, hingga aku bisa mengenali mereka, kemudian mereka terhalang dari telagaku, hingga aku berkata, “Yaa Rabb, sahabatku…sahabatku.” Lalu diakatakan kepadaku, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.” (Muttafaq alaih)

Maka berhati-hatilah, jangan sampai kita termasuk golongan orang yang disinggung oleh Al-Auzai t, “Akan datang masanya dimana saudara yang menyayangi, atau dirham yang bersumber dari yang halal, atau amal yang kerjakan sesuai sunnah menjadi perkara yang langka.”[4]


[1] Al-Bukhari dan Muslim, Al-Lu’lu’ Wal Marjan hadits no.1150.

[2]  Ighatstullahfan oleh Ibnul Qayyim: 1/70.

[3]  Al-I’tisham oleh Abu Ishaq As-Syathibi, hal. 20.

[4]  Hilyatul Auliya: 8/355.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan