Rabu, 12 Desember 2012

KEFAKIRAN dan KEKAYAAN yang SEBENARNYA

Ketika kefakiran itu hanya dimaknai sebagai kekerungan atau ketiadaanmu secara materi, maka tak terbilang manusia benar-benar menjadi menjadi fakir. Sebab, kekuatan kemanusiaannya menjadi lemah dan rendah. Kesimpulan itu berubah menjadi rasa, sehingga merusak segala potensi dan kekuatan jiwanya.

Ketika kefakiran itu dimaknai sebagai ketiadaan wujud amal  baik pada diri kita, maka semua manusia berpeluang menjadi kaya. Kekuatan kemanusiaan kita akan bangkit, dan semua potensinya akan bermunculan.

Ketika rasa takut itu tertuju para kekurangan dan penderitaan hidup, maka kata ‘takut’ itu akan manafsirkan seratus kerendahan yang sebenarnya tidak menakutkan.

Akan tetapi ketika rasa takut itu tertuju kepada kepada kehidupan akhirat dan siksa-Nya, maka jadilah kata ‘takut’ itu simpul kemuliaan. Demikianlah agama Islam menjadikan pemeluknya manusia yang berjiwa besar. Orang yang tidak ada kalimat yang tertuju pada dirinya, “Orang itu sudah kalah jiwanya.”  (Ar-Rafi’i)


*Dari sebuah kitab yg tidak saya ingat judulnya.

seperti PELITA KACA seperti MUTIARA

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur: 35)


Harus jujur saya  akui bahwa ini adalah sebuah kelalaian. Sering membaca dan mendengar tapi luput dari pemaknaan dan penghayatan. Dan memang sering begitu. Betapa banyak ayat dibaca, betapa sering nasihat didengar, tapi hanya berlalu begitu saja.  Ah…untuk kesalahan yang ini saja rasanya saya harus banyak berucap istighfar. Saya baru termenung saat membaca penjelasan Syaikh Musthafa Al-Adawi Hafizhahullah mengenai maksud dari permisalan dalam ayat di atas.

Bahwa perumpamaan dalam ayat di atas adalah tentang hati. Ya tentang hati kita. Pertama, bahwa Allah lah sumber segala cahaya, segala kebaikan yang melekat pada segala sesuatu. Seperti sabda Rasulullah dalam salah satu doanya, “Yaa Allah, milik-Mu segala puji. Engkau adalah (pemberi) cahaya langit dan bumi, dan siapa yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim)

Lalu Allah memisalkan cahaya Allah di dalam hati orang-orang beriman adalah seperti lampu yang berada dalam ruang yang tak tembus cahaya. Dan lampu itu berada berada dalam wadah keca, sehingga cahayanya itu benar-benar terang dan merata ke seluruh ruangan. 

Dan lagi, kaca itu dengan kehalusannya, ia teramat kuat dan keras seperti mutiara. Demikianlah (seharusnya) hati seorang mukmin. Hati yang putih bersih, halus tapi sangat kuat. Di sinilah letak keunikan hati orang yang beriman; ia memiliki sifat yang halus, lembut, dan penyayang (Ali Imran: 159, Al-Fath: 29, dan Asy-Syu’ara: 215)   


Di saat yang sama ia juga memiliki sifat yang keras, kuat, dan kokoh. Kuat memegang kebenaran, kuat menghadapi cobaan, dan keras kepada musuh-musuh Allah, (At-Tahrim: 9, At-Taubah: 123) Cahaya seperti inilah yang menjadikan jiwa menjadi lapang. Lalu cahaya itu menerangi dan menjadi energi bagi seluruh jawarih. Sehingga tangan hanya memegang yang baik, kaki hanya melangkah menuju kebaikan, mata melihat dan telinga mendengar untuk mengambil pelajaran. Demikian pula lisan hanya mengucapkan perkataan yang yang ma’ruf, sedangkan otaknya berpikir bagaimana menambah pundi-pundi ketaatan. Demikianlah cahaya itu menyertai hati, menerangi rumah dengan cahaya iman, menjadi teman dan pengingat dalam perjalanan, penjaga disaat sendirian.

Lalu Allah melanjutkan permisalan yang indah ini, bahwa benderang cahaya lampu itu  berasal dari minyak pohon terbaik yang diberkati, zaitun. Dan lagi pohon zaitun itu tumbuh di tempat yang sangat ideal, yaitu di puncak bukit, sehingga pohon itu mendapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit hingga matahari terbenam. Pohon zaitun yang demikian akan tumbuh subur dan buahnya menghasilkan minyak yang berkuwalitas. Demikianlah hati orang yang beriman, kekuatan dan cahayanya berasal dari yang Maha Perkasa, kekuatan iman dan fitrah yang sehat. Kekuatan yang dibimbing oleh ilmu sehingga terbentuklah pribadi yang gemilang, yang bersih dan bersinar terang meskipun tidak disentuh api. Adapun ‘kegelapan’ sekitarnya, membuat cahayanya semakin terang. Ujian dan cobaan menjadikannya semakin kuat dan menjadi ladang kebaikan. 
Sungguh menakjubkan, si pemilik hati dengan segudang prestasi. Dengan segala kebaikan dan kesuksesannya melalui berbagai ujian, ia selalu menyadari bahwa semuanya semata-mata karunia Allah. Bukan karena dirinya. Tertutuplah pintu kesombongan, sehingga setan tak mampu menggelincirkannya.
“…Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”


Allahumma muqallibal qulub tsabbit qulubana 'ala dienika...



 
*Dikutip dan diadaptasi dari Syifaul Qulub, karya As-Syaikh Musthafa Al-Adawi.

Siapa Memilih untuk Menderita?

Ibnu Taimiyah berkata,“Jika seseorang merasakan kelezatan dan kebahagiaan bukan karena Allah, bukan pula di jalan Allah, maka ia tidak akan berkekalan. Ia akan segera bosan dan berpindah dari satu macam kelezatan pada kelezatan yang lain, dari seorang ke orang yang lain. Ia bisa menikmatinya dalam satu keadaan, namun tidak dalam keadaan yang lain. Bahkan sebaliknya, bisa jadi dia menderita karenanya, hingga bahagia itu menyiksa batinnya.”
Ketahuilah, siapa saja yang mencintai sesuatu karena selain Allah, maka yang cintainya hanya akan menyakitinya, dan menjadi penyebab hatinya tersiksa; baik cintanya terbalas ataupun tertolak. Sebab, jika ia tidak bisa meraihnya, ia akan menderita dan tersiksa karena terpisah, jika ia mendapatinya pun, deritanya akan lebih banyak dari kelezatannya, mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya. Alhasil, cinta kepada makhluk akan menjadi becana baginya, kecuali cinta karena Allah, dan di jalan Allah. Cinta seperti itulah yang akan menjadi keindahan dan kesempurnaan sebagai hambaNya.” (Ad-Durar min Kalami Syaikhil Islam)

CITA-CITA para JUARA

Sejarah mencatat sebuah peristiwa ‘sederhana’ yang terjadi belasan abad silam. Empat orang pemuda sedang berada di Ka’bah, dekat Rukun  Yamani. Mereka adalah tiga bersaudara; Abdullah bin Zubair, Thalhah bin Zubair dan Urwah bin Zubair. Sedangkan satunya lagi adalah Abdul Malik bin Marwan. Di tempat yang mulia itu mereka berbincang-bincang tentang cita-cita.
“Aku bercita-cita ingin menjadi penguasa Hijaz.” Kata Abdullah.
“Aku ingin menjadi penguasa Irak.” Kata Thalhah.”
“Aku ingin menjadi seorang alim yang terpercaya.” Ungkap Urwah.
“Jika kalian merasa puas dengan cita-cita kalian, maka saya pun bercita-cita ingin menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin.” Pungkas Abdul Malik.
Obrolan singkat ini dicatat oleh sejarah. Dan akhirnya sejarah pula yang menjadi saksi bahwa mereka tidak sedang berangan-angan. Abdullah berhasil meraih cita-citanya menjadi pemimpin Hijaz. Thalhah menjadi gubernur Irak. Sedangkan Urwah mejadi ulama terkemuka di kalangan tabi’in, orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari bibinya, Aisyah Radhiyallhu’anha. Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berhasil menduduki kursi kekhalifahan.

Beda Cita-cita, Beda Angan-Angan
Jika untuk meraih cita-cita kau menempuh proses yang sealur dengan titik yang hedak kau tuju. Kau mengenali tabiat perjalanan, siap membayar harga untuk sampai di tempat tujuan yang dicita-citakan. Berarti kau benar-benar sedang bercita-cita. Tetapi jika sebaliknya, jalan yang kau tempuh justru berbelok arah dari titik tujuan, atau menunda pekerjaan di setiap tahapan perjalanan, dan tidak siap membayar harga yang sepadan dengan harapan, sadarlah bahwa kau sedang berangan-angan, sedang mempersiapkan kegagalan.

Apa Adanya, Mengalir Seperti Air
Seperti halnya saya, dan mungkin juga Anda pernah ditanya tentang rencana kehidupan. Lalu saya jawab, “Santai aja. Biarkan hidup mengalir seperti air.” Sebuah jawaban yang kadang sering diartikan sebagai 'hidup tanpa arah, tanpa rencana, dan liar'. Padahal tabiat air justru sungguh konsisten, selalu menuju satu titik yang pasti. Yaitu titik paling rendah yang bisa dacapainya. Jika pun ada rintangan yang menghadang di hadapan, maka dia tidak akan pernah berhenti berusaha, mencari celah, atau harus mendaki dahulu untuk kemudian menemukan jalan turun, muara adalah ujungnya. Atau ia habis dalam perjalanan sebelum sampai di tujuan, akan tetapi ia telah membuktikan bahwa ia sudah bergerak, mengalir  dan memberi arti bagi kehidupan.
Kau ada jika memiliki cita-cita. Dan kau benar-benar ada jika kau mau menempuh jalan, dan membayar harga untuk cita-citamu. Sebab, kesuksesan itu menjadi berkesan dan layak dikenang karena proses untuk menuju, dan harga yang diberikan untuk hasil yang kau ingin.

SATU berbanding SERIBU

Ini tentang kualitas, tentang sedikit tapi banyak. Tentang individu yang menjelma menjadi umat.


Pasukan Islam yang dipimpin Qataibah bin Muslim berhadapan dengan pasukan At-Turk yang seolah tak berujung. Mereka serasa seperti beberapa ekor semut berhadapan dengan sepasukan gajah. Disaat-saat genting seperti ini. Qutaibah menyadari bahwa ia membutuhkan seorang kesatria yang sebanding dengan seribu pasukan.

“Dimana Muhammad bin Wasi’? tanya sang panglima.
Tidak ada jawaban.
“Tolong panggilkan Muhammad bin Wasi’, Saya membutuhkan beliau.”

Beberapa orang kudian menelisik barisan pasukan yang berdiri kokoh. Selang beberapa lama mereka menemukan Abdullah bin Wasi’ tengah di sisi lain pasukan itu. Ia berdiri dengan bertumpu pada tombaknya, sementara teluntuk tangan kanannya menunjuk ke langit. Menyaksikan hal tersebut utusan Qutaibah memilih untuk memutar badan dan kembali menemui sang komandan.
"Mana Abdullah bin Wasi’? Tanya Qutaibah penasaran.
“Dia berada di sisi kanan pasukan ini.” Jawab salah seorang dari mereka.
“Apa yang sedang dia lakukan di sana?” Tanya Qutaibah lagi.
“Dia sedang berdoa.”
“Jari telunjuk Abdullah bin Wasi’ itu lebih aku sukai daripada seribu bilah pedang. Dan lebih aku pecayai daripada seratus orang pemuda yang terampil berperang. Sungguh, jika jari telunjuk Muhammad bin Wasi’ sudah diangkat untuk berdoa, maka doanya akan naik menembus pintu langit dan akan dikabulkan.”

***
Al-Alla’ Al-Hadhrami berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Khathab di Madinah.

Assalamualaikum…
Besama surat ini kami sampaikan bahwa kami membutuhkan bantuan pasukan. Jumlah yang kami butuhkan adalah 4000 pasukan.”

Wassalamu'alaikum.
 
Setelah menerima surat tersebut, Khalifah Umar kemudian memanggil empat orang. Ya, hanya empat orang. Mereka kemudian diberi surat pengantar untuk disampaikan kepada Al-Alla’ Al-Hadhrami, isi suratnya adalah sebagai beriukut:

“Surat Anda yang berisi permintaan bantuan pasukan sejumlah 4000 orang telah saya terima dan saya baca. Maka besama surat ini saya kirimkan untukmu empat orang, masing-masing sebanding dengan seribu orang pasukan. Pempimnnya adalah Ubadah bin Shamit, orang yang suaranya di medan tempur lebih dahsyat daripada satu kompi pasukan, lalu bagaimana dengan pedangnya?”
Wassalamu'alaik warahmatullah*
*Dikutip dari: "Al-Manarat Asy-Syakhshiyah" 

Selasa, 11 Desember 2012

MATI sebelum MATI

Pada mulanya kau mendengar dan menyakiskan
Ada janji dan kesanggupan

Berganti alam
Kau awali kehadiranmu dengan tangis
Selanjutnya tertawa, menghibur dan mengundang senyum
Kau timang bahagia di hati mereka

Bekal perjalanan sudah dipersiapkan
Pendengaran lalu penglihatan
Dan hati
Agar kau bersyukur.
Berjalan searah tujuan penciptaan.
Telinga mendengarkan
Mata memandang
Hati menyerap setiap pelajaran
Lalu terpahat indah
Menjadi hidup
Menjadi gerak
Tapi, adakah setiap yang kau dengar dan lihat terserap menjadi pelajaran?
Atau sebenarnya kau buta dan tuli?
hanya onggokan daging yg tak memiliki kehidupan?
Jika panggilan kehidupan itu tidak juga kau pedulikan
Bersiaplah untuk mati sebelum datangnya kematian.
 

SYUKUR

Seorang lelaki mendatangi Yunus bin Ubaid. Lelaki itu mengeluhkan kesulitannya, tentang ekonominya yang seret, tentang kesedihannya.
Setelah mendengar keluh-kesah tamunya ini, Yunus bin Ubaid bertanya,
“Apakah kamu mau jika aku membeli penglihatanmu dengan 100 ribu dinar?
“Tentu tidak.” Jawabnya.
“Kalau pendengaranmu?”
“Tidak.”
“Jika dengan lisanmu?” tanyanya lagi.
“Jelas saya tidak mau.”
“Kalau dengan akalmu?”
“Apalagi dengan akalku, aku lebih tidak mau.”
Kemudian Yunus bin Ubaid mengingatkannya dengan nikmat yang masih Allah berikan padanya. Kemudian beliau berkata, “Aku menyaksikan ratusan ribu nikmat pada dirimu, akan tetapi kamu masih saja mengeluhkan keadaanmu.”


Fabiayyiaalaaairabbikuma tikadzdzibaaan?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan