Sejarah
mencatat sebuah peristiwa ‘sederhana’ yang terjadi belasan abad silam.
Empat orang pemuda sedang berada di Ka’bah, dekat Rukun Yamani.
Mereka adalah tiga bersaudara; Abdullah bin Zubair, Thalhah bin Zubair
dan Urwah bin Zubair. Sedangkan satunya lagi adalah Abdul Malik bin
Marwan. Di tempat yang mulia itu mereka berbincang-bincang tentang
cita-cita.
“Aku bercita-cita ingin menjadi penguasa Hijaz.” Kata Abdullah.
“Aku ingin menjadi penguasa Irak.” Kata Thalhah.”
“Aku ingin menjadi seorang alim yang terpercaya.” Ungkap Urwah.
“Jika kalian merasa puas dengan cita-cita kalian, maka saya pun bercita-cita ingin menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin.” Pungkas Abdul Malik.
Obrolan
singkat ini dicatat oleh sejarah. Dan akhirnya sejarah pula yang
menjadi saksi bahwa mereka tidak sedang berangan-angan. Abdullah
berhasil meraih cita-citanya menjadi pemimpin Hijaz. Thalhah menjadi
gubernur Irak. Sedangkan Urwah mejadi ulama terkemuka di kalangan
tabi’in, orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari bibinya,
Aisyah Radhiyallhu’anha. Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berhasil
menduduki kursi kekhalifahan.
Beda Cita-cita, Beda Angan-Angan
Jika
untuk meraih cita-cita kau menempuh proses yang sealur dengan titik
yang hedak kau tuju. Kau mengenali tabiat perjalanan, siap membayar
harga untuk sampai di tempat tujuan yang dicita-citakan. Berarti kau
benar-benar sedang bercita-cita. Tetapi jika sebaliknya, jalan yang kau
tempuh justru berbelok arah dari titik tujuan, atau menunda pekerjaan
di setiap tahapan perjalanan, dan tidak siap membayar harga yang
sepadan dengan harapan, sadarlah bahwa kau sedang berangan-angan,
sedang mempersiapkan kegagalan.
Apa Adanya, Mengalir Seperti Air
Seperti
halnya saya, dan mungkin juga Anda pernah ditanya tentang rencana
kehidupan. Lalu saya jawab, “Santai aja. Biarkan hidup mengalir seperti
air.” Sebuah jawaban yang kadang sering diartikan sebagai 'hidup tanpa
arah, tanpa rencana, dan liar'. Padahal tabiat air justru sungguh
konsisten, selalu menuju satu titik yang pasti. Yaitu titik paling
rendah yang bisa dacapainya. Jika pun ada rintangan yang menghadang di
hadapan, maka dia tidak akan pernah berhenti berusaha, mencari celah,
atau harus mendaki dahulu untuk kemudian menemukan jalan turun, muara
adalah ujungnya. Atau ia habis dalam perjalanan sebelum sampai di
tujuan, akan tetapi ia telah membuktikan bahwa ia sudah bergerak,
mengalir dan memberi arti bagi kehidupan.
Kau
ada jika memiliki cita-cita. Dan kau benar-benar ada jika kau mau
menempuh jalan, dan membayar harga untuk cita-citamu. Sebab, kesuksesan
itu menjadi berkesan dan layak dikenang karena proses untuk menuju, dan
harga yang diberikan untuk hasil yang kau ingin.